_______________

11 January 2012

Begini Nih Acara Penerimaan Mahasiswa Baru Fapet Unpad Jaman Sekarang!

Kok judulnya seperti itu? Ya, postingan ini memang ditujukan untuk mereka yang khususnya berasal dari 'jaman lalu'. Liputan dibawah ini, yang kami kutip dari blog TTIP, cukup menyajikan suasana acara Penerimaan Mahasiswa Baru (PMB) tahun 2011. Acara sejenis, dulu dikenal dengan MABIM, POSMA dll.

Mudah-mudahan liputan ini cukup mengobati rasa penasaran sebagian alumni yang menanyakan kondisi kemahasiswaan di kampus sekarang ini. Dapat dimaklumi jika para alumni 'lama' merasa kehilangan info kondisi terkini, karena berasal Akang/Euceu berasal dari rentang angkatan tahun 60-an hingga 2000-an. Selamat membaca...

Liputan: BISON 2011 SEMANGAT BARU YANG LEBIH BESAR

Jatinangor 8-12 Agustus 2011, Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Peternakan Universitas Padjadjaran mengadakan ceremonial penerimaan mahasiswa baru atau yang biasa disebut dengan PMB dengan kegiatan seperti pembekalan serta pengenalan Fakultas, Kelembagaan, Profesionalisme Peternakan, Etika, Organisasi, dll. Kegiatan yang dilaksanakan selama lima hari yang juga berbarengan dengan bulan ramadhan ini merupakan gerbang pengenalan dunia perkuliahan kepada mahasiswa-mahasiswa yang sedang mengalami transisi dari masa sekolah menengah menuju perguruan tinggi.


Dengan jumlah mahasiswa baru sebanyak 310 mahasiswa, yang mana hampir sebagian besar mahasiswanya masuk melalui jalur SNMPTN yakni 187 calon mahasiswa, Undangan 21 calon mahasiswa, Bidik Misi 34 calon mahasiswa, dan jalur SMUP 68 calon mahasiswa. Serta 80% diantaranya berasal dari daerah Jawa Barat. Fakultas Peternakan telah membuktikan bahwa fakultas ini tidak kalah saing dengan fakultas lainnya. Selain itu dengan adanya tradisi pemberian nama bagi tiap angkatannya, angkatan baru ini pun diberikan nama “BISON” yang merupakan singkatan dari “Pembekalan Orientasi Mahasiswa Fakultas Peternakan” yang juga berfilosofi dari sifat bison antara lain yaitu gagah dan tidak rela untuk disakiti, kegiatan PMB ini menitik beratkan pada kekompakan dan kedisiplinan para mahasiswa, jelas Hendrik selaku ketua pelaksana kegiatan PMB tersebut.

Kegiatan yang dikenal dengan nama PMB ini pada dasarnya merupakan kegiatan yang esensialnya lebih dari sekedar pegenalan kampus yang akan mereka naungi, namun juga memotivasi para mahasiswa baru agar dapat mendapatkan gambaran yang jelas dan nyata mengenai studi yang akan mereka laksanakan. Perencanaan–perencanaan studi yang baik dan tepat agar meloloskan jebolan fakultas peternakan yang unggul.

Selain itu juga dalam kegiatan ini mahasiswa dikenalkan dengan dunia “kekampusan” yang mana didalamnya terdapat penjelasan syarat-syarat dilakukannya kegiatan PKL, KKN, serta Usulan Penelitian yang diberikan langsung oleh Pembantu Dekan I Bagian Akademik yakni Dr. Agr. Ir. Siti Darojah Rasjad M.S.


Bukan hanya pengenalan kegiatan akademik kampus saja yang diberikan pada mahasiswa baru ini, akan tetapi juga pengenalan unit kegiatan mahasiswa (UKM) ,baik yang bersifat minat dan bakat ataupun keprofesiannya yang seluruhnya berjumlah 11 UKM, yang diselenggarakan pada hari Kamis, 11 Agustus 2011 di aula Gedung 5 Fakultas Peternakan Universitas Padjajaran. Adapun acara pada hari itu dilanjutkan dengan mengadakan kegiatan pengenalan mahasiswa pada komoditas ternak yang ada di Fakultas Peternakan dengan cara berkunjung langsung ke komplek perkandangan Fakultas Peternakan dan di akhiri dengan kegiatan pembuatan telur asin yang mana sekaligus mengenalkan pada mahasiswa baru mengenai pengolahan hasil peternakan.

“Adapun follow up dari kegiatan PMB ini nantinya para mahasiswa akan diarahkan pada pemilihan ketua angkatan yang kemudian selanjutnya akan diarahkan adanya kegiatan-kegiatan yang mana para mahasiswa baru akan dilibatkan secara menyeluruh dalam pelaksanaan kegiatan tersebut sehingga diharapkan setelah terlaksanakan kegiatan-kegiatan tersebut para mahasiswa baru dapat lebih solid dalam berkehidupan baik dalam bidang akademik ataupun sosial” lanjut hendrik. Selain itu menurut Presiden Badan Eksekutif Mahasiswa Fapet Unpad , Diky Somantri, dengan adanya kegiatan PMB dan follow up-nya akan turut membantu mengangkat nama fakultas itu sendiri serta akan menciptakan kader-kader organisatoris kedepannya.

Begitupun disampaikan oleh Asep Rahayu Nugraha, pria kelahiran Majalengka yang dipercaya sebagai Koordinator Mahasiswa ini merasakan manfaat kegiatan PMB, kedisiplinan dan kekompakan yang dirasakan semakin tinggi, dan Asep akan menerapkan kekompakan dan kedisiplinan tersebut walaupun kegitan PMB telah berakhir

Lain halnya dengan pendapat Pembantu dekan III bagian kemahasiswaan, Dr. Rahmat Hidayat, Spt, MSi, yang mana menyebutkan bahwa untuk angkatan yang baru ini akan lebih diarahkan pada peningkatan mutu akademik yang mana salah satunya dengan akan diikutsertakan para mahasiswa baru ini dalam kegiatan-kegiatan pengembangan penalaran seperti PKM.

Hal yang membanggakan pun tidak datang hanya dari para mahasiswa baru angkatan 2011, para panitia pun, menurut hendrik, telah melaksanakan tugasnya dengan baik. Dengan sistim koordinasi yang terarah menjadikan bukan hanya para mahasiswa baru akan tetapi kepanitiaan yang solid juga. Selain itu dukungan dari para panitia dosen juga turun memberikan andil dalam kegiatan PMB ini.

Adapun kegiatan yang dilaksanakan selama lima hari ini ditutup dengan kegiatan buka puasa bersama yang diselingi dengan penayangan video selama kegiatan PMB serta dimeriahkan dengan kembang api yang menandakan ucapan selamat kepada angkatan 2011 kemudian diakhiri dengan “barikade” khas dari Fakultas Peternakan.


Akhirnya kegiatan PMB pun berakhir. Baik para dosen, panitia, ataupun para senior tinggal menunggu gebrakan serta inovasi dan perubahan dari angkatan baru kali ini.

Tetap semangat!!!
Bison 2011... Fapet!!!! Fapet!!! Fapet!!!

sumber: blog TTIP

Sudahkah Akang/Euceu memiliki T-shirt Alumni Fapet Unpad sebagai merchandise dari pulangkandang.com?

read more...

07 January 2012

Batu Tertua Pulau Jawa Menjadi Bagian Pondasi Gedung Rektorat Unpad Kampus Jatinangor

Mulai awal tahun 2012 ini, seluruh unit kerja di kampus Unpad Jln. Dipati Ukur No. 35 Bandung, mulai berkantor di Gedung Rektorat di kampus Unpad Jln. Raya Bandung-Sumedang Km 21 Jatinangor. Kepindahan seluruh unit kerja Unpad ke Jatinangor ini bertujuan untuk meningkatkan pelayanan dan mendekatkan pengelola tingkat universitas dengan mahasiswa dan dosen Unpad, yang mayoritas berada di Jatinangor.

Gedung Rektorat ini berada di bagian utara kampus Unpad Jatinangor, lokasi yang sebelumnya meliputi lahan Pedca, rumah kaca dan hidroponik Fakultas Pertanian, serta tempat pemotongan unggas Fakultas Peternakan. Posisi lokasi yang tinggi dinilai akan memudahkan untuk melakukan pengawasan terhadap aktivitas yang berada di depan. Lokasi ini juga dapat menimbulkan kesan sebagai lambang kewibawaan.

Pada awalnya, menurut dr. Koeswadji, M.Sc, salah seorang anggota tim penyusun Rencana Induk Pembangunan (RIP) Unpad, Gedung Rektorat ini berada di “jalur tengah” Kampus Unpad Jatinangor. Gedung Rektorat ini dianggap sebagai “Paku” dengan dikelilingi oleh gedung-gedung fakultas dan gedung pendukung lainnya, dengan formasi “sky line”, dari mulai gerbang lama Unpad, hingga Gunung Manglayang yang melatarbelakangi kampus Unpad Jatinangor.

“Konsep ini menjadi berubah antara lain karena berubahnya gerbang masuk Unpad yang asalnya dari Jalan Raya Jatinangor, sekarang dari arah Unwim (sekarang ITB), karena tanah kita terpotong oleh jalan baru yang dibangun Pemda Sumedang,” jelasnya.

Dengan perubahan lokasi tersebut, dr. Koeswadji menjelaskan ada yang berubah dari filosofi Gedung Rektorat yang awalnya sebagai “paku”-nya fakultas, sekarang berubah menjadi bersifat mengayomi, mendorong dari belakang layaknya falsafah pendidikan kita “Tut Wuri Handayani”. “Ini tidak menjadi masalah. Masterplan memang harus dievaluasi, melihat situasi saat ini. Bila sudah tidak sesuai, ya harus diganti,” jelasnya.

Untuk mencari rancangan gedung yang tepat sesuai dengan filosofi, kebutuhan Unpad, dan lokasi pembangunannya, Unpad menyelenggarakan sebuah sayembara prarancangan Gedung Rektorat Unpad yang digelar sejak bulan Februari 2009 bekerja sama dengan Ikatan Arsitektur Indonesia (IAI) Jawa Barat. Sayembara yang diikuti oleh sekira 42 peserta dengan 37 karya yang lolos ini, berhasil dimenangkan oleh Yogi Yogama Suhamdan, ST, IAI., dengan judul karya “Lembur Awi”.

Tahap pertama pembangunan gedung ini dimulai pada Juli 2010 yang meliputi pembangunan struktur dan kulit luar gedung, diawali dengan peletakan batu tertua di Pulau Jawa, yang berumur mencapai lebih dari 136 juta tahun sebagai bagian dari batu pondasi pembangunan Gedung Rektorat Unpad Kampus Jatinangor.

Pemasangan batu tertua tersebut dilakukan pada penentuan titik nol Gedung Rektorat Unpad Kampus Jatinangor, yang dilakukan oleh Rektor Unpad, Prof. Ganjar Kurnia, Rektor ke tujuh Unpad, Prof. Yuyun Wirasasmita, Rektor ke Sembilan Unpad, Prof. Himendra Wargahadibrata dan Sekretaris Senat. Kemudian diikuti para Pembantu Rektor, Para Dekan dan perwakilan dari tiap fakultas, serta dari pihak perbankan.

Rektor Unpad, Prof. Ganjar Kurnia saat Penentuan titik nol Gedung Rektorat Unpad Juli 2010 lalu mengatakan bahwa pembangunan Gedung Rektorat Unpad di Jatinangor merupakan kelanjutan yang telah dirintis oleh rektor-rektor sebelumnya. “Ini merupakan kelanjutan yang telah dirintis sebelumnya oleh Rektor Unpad waktu itu yaitu Prof. Yuyun sekitar tahun 83-84-an. Kemudian dilanjutkan juga oleh Prof. Maman P. Rukmana, dan kemudian Prof. Himendra Wargahadibrata,” tutur Prof Ganjar.

Gedung Rektorat Unpad Kampus Jatinangor ini sendiri dibangun di atas tanah seluas kurang lebih 14.000 M2, dengan tinggi empat lantai ditambah dengan basement. Lantai satu untuk ruang penunjang senat, lantai dua ruang penunjang rektor, lantai tiga untuk ruang kebutuhan umum, dan lantai empat ada mess atau ruang menginap. Untuk mempermudah akses, pada lantai 2 akan dibangun jalan penghubung (connecting) sebanyak tiga buah yang bertemu di gedung senat yang berada di area tengah gedung Rektorat Unpad. *

sumber: unpad.ac.id

Sudahkah Akang/Euceu memiliki T-shirt Alumni Fapet Unpad sebagai merchandise dari pulangkandang.com?

read more...

Gedung Rektorat Unpad Diresmikan

JATINANGOR,(GM)- Gedung Rektorat Universitas Padjadjaran (Unpad), Jatinangor, Kab. Sumedang, Kamis (5/1) diresmikan oleh Rektor Unpad, Prof. Ganjar Kurnia. Peresmian dihadiri jajaran Pembantu Rektor, Dekan, Kepala Biro, Senat, dan Guru Besar Unpad.

Peresmian yang ditandai pengguntingan pita oleh Rektor Unpad tersebut diikuti pula mantan Rektor Unpad ketujuh, Prof. Dr. Yuyun Wirasasmita, M.Sc. dan rektor kesembilan, Prof. Dr. H.A. Himendra Wargahadibrat.

Ganjar kepada wartawan mengatakan, peresmian gedung ini diawali beberapa fakultas di lingkungan Unpad yang pindah ke kawasan Jatinangor pada tahun 1983. Baru tahun ini, Rektorat Unpad resmi pindah ke Jatinangor.

Selain itu, lanjut Ganjar, tujuannya untuk meningkatkan pelayanan yang sebaik-baiknya bagi seluruh dosen, tenaga kependidikan, dan mahasiswa di lingkungan Unpad, mengingat sebagian besar mahasiswa Unpad berada di Jatinangor. "Hijrah ke Jatinangor ini, kinerjanya harus lebih baik daripada di Dipati Ukur," katanya.

Menyinggung kekhawatiran adanya demo dari kalangan mahasiswa kerena pindah ke Jatinangor, Ganjar menyatakan, pihaknya telah menyosialisasikan, terlebih sejumlah kegiatan mayoritas dilakukan di sana. "Insya Allah tidak ada demo, kita telah menyosialisasikannya. Malahan, sejumlah mahasiswa juga turut mengucapkan selamat dalam bentuk karangan bunga," kata Ganjar.

Dengan pindahnya gedung rektorat ke Jatinangor, Unpad juga akan melakukan optimalisasi aset secara keseluruhan, termasuk aset gedung di Jln. Dipati Ukur. "Kampus di Dipati Ukur tidak akan kita lupakan, apalagi itu gedung bersejarah. Beberapa fakultas akan membangun gedung baru yang dananya dibantu oleh Islamic Development Bank (IDB). Saat ini, gedung fakultas hukum memang masih digunakan fakultas keperawatan, tapi nanti semuanya akan pindah ke Jatinangor," jelas Ganjar.

Sementara Kepala Bagian Tata Usaha dan Rumah Tangga Unpad, Edward Henry menyatakan, gedung rektorat ini dibangun di lahan sekitar 1,5 ha dengan luas tapak 3.500 m2 dan luas bangunan 14.000 m2. Pembangunan gedung empat lantai ini menghabiskan dana Rp 78 miliar yang dananya berasal dari Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) Unpad. (B.46)**

sumber: galamedia

Sudahkah Akang/Euceu memiliki T-shirt Alumni Fapet Unpad sebagai merchandise dari pulangkandang.com?

read more...

02 January 2012

Ini Dia Contoh Aplikasi IT dalam Industri Peternakan Ayam

Seberapa besar peran teknologi informasi (IT) dalam pengelolaan industri peternakan ayam? Pulangkandang.com mencoba menelusurinya tetapi masih terkendala oleh minimnya sumber artikel yang tersedia. Belum banyak laporan indpenden yang muncul untuk menggambarkan penerapan aplikasi IT dalam industri peternakan di Indonesia, meski pada tataran realita kebutuhan tersebut saat ini pemenuhannya tidak terhindarkan. Berikut ini kutipan artikel dari Majalah SWA, yang meskipun berasal dari tahun 2009 tetapi masih cukup segar untuk memberi gambaran peran besar IT dalam meningkatkan kinerja industri peternakan.

Bau Kecanggihan di Bisnis Ternak Ayam

Proses bisnis di industri peternakan ayam ternyata tak sesederhana yang dibayangkan. Pasalnya, prosesnya berlangsung sangat panjang dan rumit. Mulai dari pemilihan grand parent stock, penanganan ayam umur sehari (day old chick/DOC), telur, pakan, vaksin hingga pemeliharaan ayam (pedaging) sampai masa panen. Belum lagi urusan memasarkan dan mendistribusikan, serta memprediksi kebutuhan pasar.

Tak mengherankan, pelaku bisnis ternak terpadu (yang mencakup usaha pembibitan ayam, pakan ternak, rumah potong ayam, dan pemrosesan) di Indonesia tidak banyak. Setidaknya ada empat perusahaan ternak terpadu yang dikelola secara modern, yakni: Charoen Pokphand Indonesia (CPI), Japfa Comfeed, serta dua perusahaan lokal, Sierad Produce dan Wonokoyo.

Bisa dimaklumi, sedikitnya pelaku usaha ternak terpadu itu, karena selain bersifat capital intensive, pengelolaannya pun tak bisa lagi dilakukan secara manual, melainkan harus dengan bantuan teknologi informasi (TI) modern. Contohnya dilakukan CPI. Perusahaan asal Thailand ini merupakan market leader dengan menguasai 35% lebih pangsa pasar pakan ternak dan DOC di Indonesia. "Di bisnis ternak terpadu, seperti CPI, TI berperan penting. Pemanfaatan TI akan sangat membantu dalam pengambilan keputusan, mempercepat informasi dan memprediksi," ujar David Djoko Prajitno, Deputi CIO CPI.

Menurut David, proses bisnis di peternakan ayam terpadu cukup complicated, sehingga perlu didukung TI untuk mempercepat eksekusi, sekaligus membuat proyeksi ke depan. Misalnya, sebelum memulai penetasan, hingga membesarkan ayam, harus dihitung berapa jumlahnya dan kapan waktunya, sehingga pada saat panen bisa sesuai dengan proyeksi. Ayam yang sudah dipanen akan dipasok untuk kebutuhan sendiri, seperti ke pabrik chicken processing (nugget), dan dijual ke pasar. Tentu saja tercakup pula perhitungan kebutuhan pasar akan daging ayam. Di sisi lain, asupan (pakan) untuk ayam harus sesuai dengan yang diinginkan. Untuk tujuan itu, CPI mengembangkan unit bisnis feedmill.

"Nah, bisnis seperti itu perlu didukung informasi secara akurat, karena implikasinya besar. Logikanya, ayam yang sudah dibesarkan dan diberi makan selama 35 hari, kalau tidak bisa dijual, tentu saja kerugiannya akan sangat besar. Untuk itu, TI berperan penting," David menjelaskan.

Singkatnya, lanjut David, TI di CPI terutama dimanfaatkan untuk menyediakan sentralisasi informasi sehingga mempermudah akses dan analisis oleh manajemen operasional unit bisnis. Juga, untuk menyusun rencana kerja dan strategi pemasaran yang dapat mengimbangi volatilitas cost of goods sold (COGS) akibat tekanan eksternal yang berasal dari bahan baku (raw material) seperti BBM, harga komoditas seperti jagung, CPO, ataupun komponen penunjang operasional usaha seperti kayu, besi dan sebagainya. Apalagi, variasi permintaan pasar menuntut adanya informasi yang akurat dan tepat waktu.

Sistem TI di CPI didesain dalam wujud Animal Husbandry Information Systems (AHSI), yang dibangun di atas empat aplikasi. Pertama, aplikasi Farm Management System (FMS). Boleh dibilang, FMS ini merupakan aplikasi inti, karena mencakup semua proses pengelolaan produksi DOC ataupun telurnya (hatching egg). FMS adalah custom-made software yang dikembangkan sendiri (in-house development) oleh tim TI CPI dibantu Jatis Solution pada akhir 2001. "Fungsi utama FMS adalah mengontrol produksi di farm," David menegaskan.

Dijelaskan David, aplikasi ini platformnya berbasis Java yang dikembangkan seperti web-based application. Jadi, user hanya perlu browser. Selain itu, FMS ini sifatnya centralized pada satu server Oracle database yang ditempatkan di kantor CPI di Ancol. Aplikasi ini bisa diakses secara real time dari sekitar 100 lokasi di berbagai pelosok farm CPI di seluruh Indonesia. Untuk koneksinya dilakukan via Wide Area Network. Dengan begitu, melalui FMS, tim di bagian operasional bisa melakukan tracking dan reporting mengenai performa farm-nya. "FMS ini merupakan aplikasi khas dan unik, karena dikembangkan berdasarkan kebutuhan bisnis yang ada di CPI," ucap David.

Alasan dikembangkannya FMS, lanjut David, karena dulu CPI tidak mempunyai visibilitas secara nasional. Misalnya, tim farm di Medan ingin konsultasi dengan rekannya di Surabaya, tapi terkendala dalam membandingkan datanya, karena semuanya masih serba offline, dan data secara nasional tidak bisa diakses dengan mudah. Selain itu, manajemen CPI juga kesulitan mengontrol farm di suatu daerah.

Kejadian tersebut pernah dikeluhkan Budiman Iskandar, COO sebuah unit bisnis di CPI. "Saya sudah di CPI lama sekali, tapi saya tidak punya visibilitas untuk melihat stok vaksin yang mau expired dengan mudah," Budiman komplain ketika itu.

Lalu, Budiman minta kepada tim TI supaya ia bisa melihat stok vaksin yang akan kedaluwarsa di berbagai daerah. Ia minta supaya dibuatkan sebuah sistem yang praktis dan tinggal klik saja, lalu data yang dibutuhkan bisa keluar di layar komputer.

"Saya ingin bisa lihat, misalnya, stok yang expired 60-90 hari kemudian. Tujuannya agar stok ini tidak mubazir. Dengan begitu, saya bisa membuat marketing scheme. Jadi, saya bisa susun strategi pemasaran untuk 90 hari ke depan supaya stok tidak nyangkut di gudang menjadi barang expired," paparnya.

Sekarang, dengan adanya sistem database terpusat di Ancol, maka data bisa diakses oleh seluruh karyawan CPI di seluruh Indonesia. Mereka bisa melihat dengan mudah data secara nasional. Begitu pula, manajemen bisa memantau perkembangan farm di suatu daerah cukup dengan menggunakan sistem ini. Misalnya, jika ada suatu wabah unggas di suatu farm CPI, manajemen menyampaikan informasi mengenai hal itu ke unit bisnis yang bergerak di bidang kesehatan hewan, yang memiliki banyak dokter hewan dan ahli obat-obatan.

Aplikasi kedua dalam platform AHSI adalah Animal Health Information System (AHIS). Aplikasi AHIS ini lebih sebagai bank data atau knowledge centre. Di situ ditampilkan berbagai data mengenai penyakit unggas beserta solusinya. Ada juga kasus penyakit unggas yang ditangani berupa foto spesimen, gejala klinis, hasil pemeriksaan laboratorium dan remedial action yang diperlukan. Termasuk pula mengenai cara pemberian pakan, penanganan telur, kesehatan ayam, dan pengetahuan lainnya yang berkaitan dengan ayam dan pakan. Historical data juga ada di situ semua, dari siklus-siklus peternakan sebelumnya, sehingga bisa dijadikan media pembelajaran. "Aplikasi itu menjadi semacam knowledge centre," ujar David.

Yang ketiga adalah Poultry Integration Mapping System (PIMS). Aplikasi ini berfungsi sebagai pusat informasi harga, kuantitas, dan area distribusi permintaan ayam pedaging. Data PIMS ini dijadikan acuan oleh tim produksi dan pemasaran. Misalnya, setelah mengacu ke PIMS, tim pemasaran memproyeksikan pasar membutuhkan 10 ribu ekor. Maka, tim produksi akan menetaskan telur sebanyak itu pula. Dengan begitu, diharapkan pada akhir hari ke-21 akan ada 10 ribu DOC (dengan asumsi proses berjalan sesuai dengan rencana, alias tidak ada ayam yang mati, Red.).

Bila, misalnya, pada hari keempat tim pemasaran mengatakan bahwa pasar tidak bisa menampung ayam sebanyak itu (katakanlah, maksimum 9 ribu ekor) lantas yang 1.000 ekor mesti dikemanakan? Nah, untuk itu perlu mencari plasma (mitra) yang bisa membesarkan ayam hingga usia panen (usia 35 hari sebagai ayam pedaging). "Di sinilah unik dan rumitnya bisnis peternakan ayam. Jadi perlu ada sinergi antara tim produksi dan pemasaran dengan mengacu pada data yang tersedia di sistem," David menerangkan.

Mengenai mitra, lanjut David, CPI memiliki 100 lebih mitra. Pola kerja samanya: mereka dipasok bibit ayam dari CPI, pakan, dan obat-obatan. Mereka juga dibantu mengelola kandang (manajemen unggas), dengan mendatangkan tenaga technical service dari CPI secara rutin. Selain itu ada pula jaminan pembelian ayam dengan nilai kontrak yang sudah disepakati.

Adapun pilar keempatnya adalah aplikasi SAP, sebagai paket ERP yang customized. SAP diimplementasi di pabrik pakan (feedmill) yang ada di 8 lokasi di seluruh Indonesia. Aplikasi ini berfungsi menangani proses administrasi secara terintegrasi, mulai dari penjualan, pembelian bahan baku, inventori, akunting, keuangan dan produksi. SAP juga diimplementasi di unit trading company milik CPI, seperti chicken processing (Primafood) dan unit bisnis animal health.

Menurut David, aplikasi SAP tersebut (mySAP Business Suite) mulai diterapkan di CPI pada 2002 untuk mengganti sistem TI lama, dengan tujuan awal mendapatkan proses bisnis yang terintegrasi. Selain itu, untuk pengelolaan informasi yang lebih akurat, sehingga manajemen dapat mengambil keputusan lebih cepat. Solusi itu didukung perangkat keras dari Hewlett-Packard dan mitra implementasi IMC.

Ketika itu, ruang lingkup proyek mencakup empat fase implementasi. Fase pertama yang berlangsung 12 bulan untuk kantor pusat dan 8 pabrik. Fase kedua selama 6 bulan untuk pembenahan manajemen personalia seluruh internal perusahaan di bawah CPI. Fase ketiga dan keempat selama 6 bulan meliputi penerapan modul-modul di unit bisnis.

Setelah selesai, kemudian dilakukan pembaruan di bidang inventori. Untuk inventori ini, prinsip kerja yang dianut CPI just in time dengan tujuan menghindari penumpukan. Dengan begitu, ketika jagung (sebagai komponen utama pakan ternak) masuk gudang akan langsung dipakai di bagian produksi, sehingga kosong dan siap diisi kembali. "Pakan yang sudah terlalu lama disimpan di gudang kualitasnya akan turun. Kami ingin bisa menjual pakannya fresh from the oven. Buffer stock tidak usah terlalu banyak, tapi seminimal mungkin supaya perputarannya selalu baru," David menjelaskan.

Kendati pemanfaatan TI di CPI termasuk lebih maju dibanding kompetitornya, perusahaan itu mengklaim termasuk irit dalam hal belanja TI-nya. Menurut David, jika umumnya investasi untuk TI berkisar 2%-3% dari revenue, investasi yang dilakukan CPI tidak sampai 0,5% revenue. "Kami sangat efisien dalam investasi TI. Justru, TI ini harus berperan supaya bisa membantu operasional sehingga lebih efisien dan efektif," kata David.

Ke depan, menurut David, berkaitan dengan adanya krisis global, pengembangan TI di CPI akan lebih fokus ke manajemen cash flow. Pasalnya, sekarang fasilitas pinjaman dari perbankan sangat sulit. Kalau pun dapat pinjaman, suku bunganya tinggi. Sementara CPI memerlukan pinjaman untuk investasi atau ekspansi. Maka, perhatian CPI ke depan lebih pada bagaimana agar bisa mengelola cash flow dan meminimalkan working capital di bagian inventori.

Selain itu, untuk pembelian (purchasing) rencananya juga akan dibantu dengan sistem, sehingga proyeksi account payable (utang) bisa dikelola lebih bagus. "Tahun ini fokus kami ke sana. Jadi membantu tim finance membuat sistem untuk procurement tracking. Nanti datanya dimanfaatkan untuk proyeksi account payable," ungkap David.

Keandalan sistem TI di CPI diacungi jempol oleh konsultan TI Kristianus Yulianto. Menurutnya, CPI sudah cukup advanced dalam implementasi TI dengan fokus pada online transactional processing (OLTP) untuk memastikan proses supply chain berjalan lancar. "Supply Chain Management adalah kunci penting dalam consumer product seperti pakan ternak, telur, dan daging ayam," Kris menandaskan.

Nilai lebih CPI, lanjut Kris, adalah sudah melangkah ke tahap online analytical processing (OLAP), yaitu dengan tersedianya knowledge management, khususnya mengenai penyakit ayam. "Ini berguna untuk memonitor dan mengambil keputusan secara cepat jika terjadi sesuatu pada masa pemeliharaan," katanya menganalisis.

Disarankan Kris, yang diperlukan CPI ke depan adalah mengembangkan OLAP ke level lebih tinggi, yakni business intelligence (BI). Pasalnya, dengan BI memungkinkan CPI bisa menganalisis histori data untuk proyeksi ke depan, menghindari kesalahan yang sama, dan melakukan optimalisasi. "Saat ini BI penting karena semua kompetitor sudah mempunyai ERP, sehingga persaingan berubah ke arah kecerdasan analisis atau competing analytics," Kris menggarisbawahi.

Sekilas PT Charoen Pokphand Indonesia

PT Charoen Pokphand Indonesia (CPI) didirikan mulanya dengan nama PT Charoen Pokphand Indonesia Animal Feedmill Co. Ltd. pada 1972. Ruang lingkup usahanya mencakup produksi dan perdagangan pakan ternak, daging ayam olahan, peralatan peternakan dan pakan ikan.

Saat ini CPI memiliki 8 pabrik pakan ternak yang tersebar di Medan, Bandar Lampung, Ancol (Jakarta), Balaraja, Semarang, Krian (Sidoarjo), Sepanjang (Sidoarjo), dan Makassar. CPI juga memiliki empat pabrik pengolahan daging (Rumah Potong Ayam), yakni di Cikande, Salatiga, Medan dan Surabaya. Rencananya akan bangun lagi satu unit di Bandung.

Hingga September 2007, total kapasitas produksi pakan ternak CPI sekitar 4 juta ton/tahun, yang diproduksi dari 7 pabrik. Total kapasitas produksi DOC sekitar 607 juta ekor per tahun. Adapun total kapasitas produksi ayam potong 105 ribu ton/tahun. Pangsa pasar CPI di pasar modern diklaim 72% dan di pasar tradisional 91%.

sumber: swa.co.id

Sudahkah Akang/Euceu memiliki T-shirt Alumni Fapet Unpad sebagai merchandise dari pulangkandang.com?

read more...