Siomay Daging Babi

Seorang tertuduh yang mengaku melakukan tindakan kriminal di pengadilan, bisa saja tak dapat dijatuhi vonis hukuman demi alasan keadilan, kalau ada alat bukti yang meyakinkan bahwa tindakan kejahatan tersebut ternyata dilakukan oleh orang lain. Keadilan hukum dilandaskan oleh pembuktian, meskipun sang terdakwa bersikukuh mengakui telah melakukan tindakan kriminal. Karena timbangan hukum itu pulalah seorang yang diduga berbuat kejahatan, ketika belum terbukti hendaknya tetap diberi praduga tak bersalah.

Seorang mahasiswa atau alumni perguruan tinggi sudah sewajarnya memahami bahwa alat bukti ilmiah adalah dasar dari pemberian label boleh/tidak ataupun halal/haram. Apalagi jika ada hal sensitif yang menyangkut masyarakat banyak, maka niatan baik menghindarkan keburukan harus disertai dengan pembuktian akan keburukan tersebut. Jangan sampai kita menyebarkan issue atau berita yang belum berdasar. Dampaknya bisa menyangkut nasib banyak orang dan berbagai pihak. Niat amar ma'ruf nahyi munkar hendaknya dibarengi dengan tabayyun (check dan re-check) juga, demikian mungkin bahasa santrinya.

Mengajak berhati-hati tidak harus dengan buru-buru menunjuk hidung ataupun mengalamatkan label keburukan kepada suatu pihak. Kelak, kalau kita tak punya bukti, maka tudingan ini bisa menjadi blunder secara hukum. Mengkeret takut dalam menyebarkan kebaikan? Bukan, melainkan kita harus berjuang menyelamatkan masyarakat dengan cara yang santun, bijak dan juga elegan.

Itulah mungkin refleksi redaksi blog Pulangkandang terhadap ramainya pembicaraan mengenai siomay daging babi produksi X di daerah Panjunan Bandung, yang bisa disimak di milis alumni FAPET UNPAD akhir-akhir ini. Wallahu a'lam...

Post a Comment

No comments