23 November 2008

Maraknya Bisnis Hewan Kurban

Dear Alumni Fapet UNPAD, pagi ini saya postingkan sebuah artikel dari Bisnis Indonesia Online, sebuah artikel yang dekat dengan kehidupan kita para sarjana/ahli madya peternakan. Siapa tahu kita tergerak terjun di celah ini, yang sudah kita ketahui lama potensinya. Atau sekadar sharing info saja dan menjadi inspirasi usaha.

Maraknya bisnis hewan kurban
Link: http://web.bisnis.com/artikel/2id1720.html

Aroma khas kambing tidak lama lagi akan tercium di sejumlah titik di beberapa kawasan di Ibu Kota. Bau kurang sedap itu berasal dari kambing sembelihan kurban yang dijual seadanya di pinggir-pinggir jalan.

Tempat menjual binatang ternak untuk sembelihan kurban pada hari raya Iduladha itu sangat sederhana. Terbuat dari bambu yang masih bulat untuk pagar keliling dan tiang penyangga atap yang terbuat dari terpal plastik.

Sejumlah warga terlihat mulai membangun tenda biru yang berfungsi sebagai showroom untuk menjual kambing kurban. Aktivitas tersebut sudah terlihat sekarang ini di lahan kosong a.l. di kawasan Kuningan dan di Jalan Radio Dalam, Jakarta Selatan.

Namun, kebanyakan showroom kambing kurban yang biasanya sangat sederhana itu baru dibuat saat hewannya datang. Terbuat dari bambu bulat untuk pagar keliling, serta penyangga atap dan lantai apa adanya.

Tentu saja angin dapat leluasa menyebarkan aroma khas kambing atau sapi.

Walaupun aromanya kurang sedap, tetapi banyak orang menangguk untung dari bisnis musiman kambing kurban.

Romly, 27, misalnya, sudah dua kali lebaran Iduladha ini, pegawai negeri di salah satu instansi pemerintah pusat ini berbisnis kambing kurban. Keuntungan yang diperolehnya lumayan besar.

Dia mendapat pasokan kambing dari Banyumas, Jawa Tengah kemudian disebar ke beberapa tempat Jakarta dan Ciputat, Tangerang. Keuntungan bersihnya setelah dipotong biaya operasional dan transportasi mencapai Rp50.000-Rp100.000 per ekor.

Menjelang Iduladha ini, pengusaha musiman seperti Romly ini akan membanjiri Ibu Kota. Mereka biasaya dapat menjual lebih dari 100 ekor kambing yang berasal dari beberapa daerah di Jawa Barat, Banten, dan Jawa Tengah.

Transaksi

Penjualan kambing dan sapi untuk sembelihan hewan kurban mulai marak terlihat di Jakarta sekitar 15 hari sebelum Hari Raya Haji, yang tahun ini jatuh pada 8 Desember 2008. Bahkan 3 hari setelahnya masih saja ada transaksi.

Demikian pula halnya yang diiklankan di sejumlah media cetak dan radio. Bahkan sejumlah lembaga sosial menawarkan pelaksanaan pemotongan hewan dilakukan di daerah terpencil yang masyarakatnya sangat membutuhkan.

Harga jual daging kurban di tingkat konsumen untuk satu ekor sapi berbobot sekitar 300 kg atau satu ekor mencapai Rp8 juta-Rp9 juta, sedangkan untuk kambing ukuran 25-35 kg atau satu ekor sebesar Rp1 juta-Rp1,1 juta.

Adapun hewan kurban untuk kebutuhan warga Jakarta yang akan melaksanakan ibadah sesuai dengan ajaran Nabi Ibrahim yang kemudian disyariatkan kepada Nabi Muhammad itu diperkirakan mencapai sekitar 60.000 ekor kambing dan 20 ekor sapi.

Pemprov DKI sendiri juga menugaskan PD Dharma Jaya agar menyiapkan sedikitnya 6.600 ekor hewan kurban yang terdiri atas 2.800 ekor sapi dan 3.800 ekor kambing. Jumlah ini akan ditingkatkan lagi bila ada permintaan konsumen.

Untuk itu, Dinas Peternakan, Perikanan dan Kelautan DKI akan mengawasi secara ketat hewan kurban dari kota di Jawa Barat, Tengah dan Timur itu agar terjamin kesehatannya dan memenuhi syarat sahnya hewan kurban.

Dinas itu juga menyiapkan sekitar 200 orang tenaga medis dan para medis di sejumlah lokasi penampungan dan penjualan hewan ternak itu untuk mencegah jangan sampai ada yang terserang virus antraks.

Pelaksanaan transaksi hewan kurban akan berlangsung sesuai batas waktu pelaksanaan penyembelihan. Sesuai dengan tuntunan ajaran Islam dilaksanakan pada hari Tasyrik yaitu setelah salat Iduladha hingga hari ketiga atau tanggal 11, 12 dan 13 Zulhijjah.

Tahap berikutnya adalah pembagian dagingnya. Pada tahap ini pengurus masjid atau lembaga yang menyelenggarakan kegiatan keagamaan tersebut harus memerhatikan mekanisme pembagiannya.

Mekanisme pembagian daging kurban tidak boleh menimbulkan kesan seperti unjuk kemiskinan. Lebih ironis jika antrean panjang permintaan daging kurban itu jadi kacau. Jangan sampai pembagian daging kurban menjatuhkan korban. (nurudin.abdullah@bisnis.co.id)


Silakan copy-paste dengan tetap mencantumkan link sumber


No comments:

Post a Comment


[pulangkandang.com]-> [close]