Nice Ending by Mr. Jebe!

Akhir tahun 2008 ini memang milik Ir. Jebe, sebuah nama alias yang tiba-tiba menjadi bintang di milis alumni fapet UNPAD. Lewat postingannya tokoh ini mengucapkan selamat kepada Ir. Sondi, staff pengajar di fakultas peternakan yang juga sekarang sedang menjadi kandidat doktor, yang baru-baru ini diangkat sebagai sekretaris lembaga pengabdian pada masyarakat UNPAD tingkat pusat. Seharusnya ucapan selamat adalah sesuatu yang positif, tetapi ternyata beberapa bagian postingan menuai reaksi yang luar biasa.

Rupanya Ir_jebe memiliki track record yang memikat, sehingga saat postingannya muncul sudah 'ditunggu' oleh para pengamat milis. Mendadak sontak juga isi postingan yang menyindir keberpihakan birokrat atas kampus terhadap sebagian pihak/golongan/jurusan ini menuai tanggapan. Sejurus kemudian cap 'pengecut', 'provokator' dan lainnya meluncur menghangatkan milis yang terkadang sunyi sepi ini. Isi dan tanggapan postingan di milis, yang diluncurkan oleh Ir_jebe, silakan Anda periksa sendiri, karena sebagai alumni saya husnuzhan sudah menjadi anggota milis.

Saya pernah menjadi 'korban' tatib, dan pernah menjadi tatib. Bahkan mengurus kegiatan yang menggerakkan tatib. Meneken SK pengangkatan bos tatib. Menyaksikan Ir_jebe menerima tanggapan bertubi-tubi, rasanya teringat perbedaan yang muncul saat menjadi peserta MABIM. Jika semua harus bilang A, lalu kita bilang C, apa yang kita dapatkan? Segera tim tatib melabrak untuk melakukan 'penyesuaian seperlunya'. Hukumnya adalah segala latar belakang dan perbedaan harus dilebur dengan paksa agar menjadi seragam. Dalam tataran pengkondisian mahasiswa baru dan pembentukan komunitas angkatan baru, barangkali hal tersebut dapat dimaklumi, meskipun trend dunia kemahasiswaan akhirnya menganggap pola pengenalan kampus seperti itu tidak manusiawi dan harus diganti dengan sistem pembinaan mahasiswa baru yang belum jelas juntrungannya.

Kembali kepada Ir Jebe, akhirnya komentar yang agak teduh juga muncul, dan mencoba berpikir lebih wise dan elegan. Perbedaan pendapat adalah sebuah keniscayaan, dan hendaknya merupakan modal meraih kemajuan. Kalau setiap lontaran kritik atau sentilan dianggap provokasi, maka hendak dibawa kemana kampus kita? Padahal kemajuan kampus akan sangat bergantung pada proses evaluasi dan kritik. Tanpa kritik dan koreksi, segala sesuatu akan berjalan maju tanpa kendali. Kita tak tahu sudah berada dimana dan harus bagaimana. Bagaimana mungkin membuat penilaian atas prestasi kita dengan parameter yang kita buat sendiri. That's not fair enough!

Saya malah kasihan dengan Sdr. Ir Jebe, yang terpaksa menggunakan simbol Jebe yang dalam bahasa sunda berarti memposisikan mulut seolah mencibir. Menunjukkan ketidaksukaan. Pastilah penggunaan identitas seperti ini karena ia ingin melindungi dirinya juga. Jika ia bicara frontal dengan identitas jelas, silakan bayangkan karirnya yang mungkin terancam. Dan mungkin ia akan berhadapan dengan 'beberapa pihak'. Dalam konteks ini, jika tujuannya membuat posting adalah memberi otokritik ke dalam kampus, maka perlu dicermati pemberian cap pengecut pada dirinya barangkali tidak tepat. Jika ia membuka dirinya dan bicara lantang, maka apakah ia digelari ksatria? Jangan-jangan justru dikecam lagi oleh mereka yang sangat suka mengecam, sebagai orang yang tolol.

Tujuan penulisan postingan boleh baik, tapi selama iklim demokrasi dan kedewasaan bersikap dalam milis belum terbentuk, yang mana sudah terbukti dari munculnya reaksi-reaksi terhadap perbedaan pendapat yang tegas, maka sulit kiranya akan diperoleh suasana yang cukup elegan untuk mencari solusi-solusi kekinian atas dinamika kampus.

Entahlah, mungkin kita harus menambah jam terbang kesabaran di tahun yang akan datang. Selamat menyongsong tahun baru...

Post a Comment

No comments