27 August 2010

Tradisi Lokal dan Gejolak Harga Daging Sapi

Sebuah artikel menarik ditampilkan laman antaranews bulan ini, menunjukkan hubungan antara gejolak harga daging sapi karena adanya kebutuhan daging sapi secara besar-besaran dalam waktu tertentu dengan tradisi lokal. Penyikapan yang proporsional terhadap fenomena inilah yang menjadi modal kebijakan yang berpihak pada peternak rakyat.


Makna Setumpuk Daging "Meugang"
artikel oleh: Azhari

"Puasa ka thoe, pat tamita sie meugang (puasa sudah dekat, di mana kita cari daging meugang)," demikian sebuah ungkapan bahasa daerah yang kerap dibicarakan orang-orang di Aceh setiap menjelang bulan puasa. Ungkapan itu bukan berarti masyarakat di Aceh tidak pernah menikmati daging sapi atau kerbau, tapi setumpuk daging pada hari meugang tampaknya lebih berharga dari puluhan kilogram pada hari-hari biasa.

Bagi keluarga di Aceh lebih bermakna jika membawa pulang daging sapi/kerbau setumpuk (lebih satu kilogram) pada hari meugang (hari penyembelihan hewan) ke rumah mereka, yang kemudian dimasak dan disantap bersama-sama.

Hari meugang merupakan salah satu tradisi ratusan tahun silam menjelang satu atau dua hari sebelum bulan puasa, atau di penghujung bulan Syakban. Bahkan, masyarakat Aceh berupaya mendapatkan/membeli daging meski pada hari meugang itu naik mencapai 50 persen dibanding hari-hari biasa.

Mahalnya harga daging pada hari meugang menjelang Ramadhan itu sebuah kendala, karena di dalamnya mengandung nilai-nilai kebersamaan dalam keluarga, baik keluarga kecil maupun besar, terutama di Gampong-gampong (desa) di provinsi itu.

Bahkan, pemandangan hampir di setiap sudut jalan terlihat berdiri pasar-pasar kaget yang menyediakan daging sapi/kerbau di penjuru daerah berpenduduk mayoritas muslim itu.

Bahkan, beberapa tahun silam, penyembelihan hewan ternak itu dilakukan dengan cara meuripee (patungan) sesama penduduk di sebuah Gampong di provinsi berpenduduk sekitar 4,6 juta jiwa tersebut.

Ratusan, bahkan ribuan ekor sapi/kerbau disembelih juga di perkantoran pemerintah, TNI dan Polri serta swasta untuk dibagikan kepada karyawannya masing-masing pada hari meugang di Aceh menjelang puasa.

Meugang sebuah tradisi unik, sebab tidak hanya warga di Aceh, tapi juga mereka yang di perantauan terkadang pulang kampung (mudik) dan berkumpul bersama keluarga menjelang puasa Ramadhan.

Meugang di Aceh tidak hanya menyambut puasa, tapi menjelang sehari atau dua hari Idul Fitri serta sehari sebelum Idul Adha atau lebih populer dengan sebutan meugang hari raya haji.

Akan tetapi, khusus meugang menjelang hari raya haji tidak sesakral puasa atau sehari sebelum Idul Fitri.

Pada meugang menjelang puasa biasanya warga Aceh membeli daging dalam jumlah relatif banyak, kemudian dimasak untuk disantap langsung (gulai panah/buah nangka), direbus (sie reboeh) dan sie balue (daging asin), yang bisa tahan lama mencapai satu bulan.

Efendi, pedagang sapi di kawasan Beurawe Banda Aceh, memperkirakan harga daging pada hari meugang bisa mencapai Rp125.000/kilogram, sementara pada hari-hari biasa paling mahal Rp70.000/kilogram.

Empat hari menjelang meugang sudah terlihat merangkak naik harganya yakni berkisar Rp85.000-Rp90.000/kilogram.

"Kenaikan itu bukan berarti kami (penjual) sengaja ingin memperoleh keuntungan besar, tapi karena harga beli hewan sapi yang juga naik," kata pedagang kecil itu.

Biarkan Mahal

Sementara itu, Wakil Gubernur Aceh Muhammad Nazar menyatakan, tidak ada masalah jika harga daging sapi asli Aceh mahal, dan biarkan saja seperti itu agar para peternak di provinsi tersebut lebih diuntungkan.

"Secara pribadi, biarkan harga daging sapi Aceh itu mahal, supaya ternak sapi Aceh bergengsi karena memang memiliki citra rasa yang baik dan kualitasnya juga tinggi," katanya menjelaskan.

Harga daging sapi pada meugang (hari penyembelihan sapi/kerbau) sehari menjelang puasa Ramadhan 1431 Hijriah, diperkirakan naik mencapai di atas Rp100.000/kilogram.

"Kalau kualitas dan citra rasa daging sapi Aceh lebih baik dibanding daerah lain, maka produksinya bisa dipasarkan ke provinsi lain di Indonesia, yang akhirnya kesejahtaraan peternak lebih baik," kata dia menjelaskan.

Ketika ditanya kemampuan masyarakat untuk membeli daging meugang, Muhammad Nazar menyatakan bagi penduduk Muslim di daerah itu tidak ada masalah.

"Masyarakat tidak mempermasalahkan jika harga daging sapi Aceh lebih mahal dibanding sapi daerah lain," katanya menambahkan.

Apalagi, masyarakat kurang mampu di Aceh sering mendapat bantuan dana atau daging pada setiap meugang.

"Bagi masyarakat kurang mampu sekarang ada juga mendapatkan bantuan dari pemerintah kabupaten/kota, serta berbagai lembaga lain di daerah ini," kata dia.

Karena itu, ia menegaskan kembali jika semua pihak sepakat untuk menyejahterakan peternak di Aceh maka tidak ada masalah dengan kenaikan harga daging sapi asli Aceh. Di Indonesia ada tiga jenis sapi asli, yakni sapi bali, sapi madura dan sapi aceh.

Sepanjang beberapa tahun terakhir, setiap menjelang hari meugang masyarakat dari berbagai daerah di Aceh mendatangi kantor bupati/walikota, gubernur dan gedung DPRA untuk meminta uang daging dan mereka rata-rata mengaku dari kalangan masyarakat miskin di desa.

Menjelang puasa tahun 2009, warga yang mendatangi kantor gubernur mendapatkan curahan uang meugang dari pemerintah.

Akan tetapi, Pemerintah Aceh mengumumkan tidak menyediakan uang bantuan daging meugang menjelang pelaksanaan Puasa Ramadhan 1431 Hijriyah (2010) kepada masyarakat di provinsi itu.

"Saya minta masyarakat tidak terpengaruh isu-isu yang menyebutkan ada bantuan `meugang` dari gubernur, sehingga berduyun-duyun datang ke kantor gubernur di Banda Aceh," kata Gubernur Aceh Irwandi Yusuf.

Melalui Kepala Biro Hukum dan Humas Sekretariat Provinsi Aceh, Makmur Ibrahim, gubernur menegaskan tidak benar jika pemerintah menyediakan uang bantuan meugang kepada masyarakat dan informasi tersebut menyesatkan.

"Itu perlu saya sampaikan karena mulai minggu-minggu pertama banyak orang datang karena adanya bantuan uang `meugang` dari gubernur. Isu tersebut jelas merugikan saya dan masyarakat Aceh secara umum," kata Makmur mengutip pernyataan gubernur Irwandi Yusuf.

Isu bantuan daging meugang itu dipastikan mengalir secara cepat dari mulut ke mulut atau bahkan melalui layanan pesan singkat (sms) telepon seluler.

"Karena segala bantuan berupa hibah, pemberdayaan ekonomi masyarakat, pendidikan, dan bantuan lainnya telah disalurkan melalui lembaga resmi baik di provinsi maupun kabupaten dan kota se-Aceh," kata dia menegaskan.

Meski tanpa adanya bantuan uang dari pemerintah namun diyakini meugang tetap semarak di Gampong-Gampong di Aceh karena membawa pulang daging sapi/kerbau ke rumah telah menjadi tradisi sakral ratusan tahun di masyarakat Aceh.
(A042/B010

source: antaranews.com


Silakan copy-paste dengan tetap mencantumkan link sumber


No comments:

Post a Comment


[pulangkandang.com]-> [close]