10 October 2010

Selamat bergabung di Fapet Tercinta!


Bandung, 18 Agustus 2010. Hari ini seperti ritual tahun-tahun yang lalu. Upacara penerimaan mahasiswa baru Fapet 2010 dilaksanakan di Aula, dihadiri oleh para pejabat dan anggota Senat Fakultas. Acaranya cukup singkat, menyanyikan lagu Indonesia Raya, Syukur, Hymne Unpad dan Hympe Fapet serta sambutan2 dan memperkenalkan anggota senat dan dosen yang hadlir.

Yang menarik barangkali adalah jumlah mahasiswa yang diterima pada tahun 2010 ini. 311 mahasiswa baru, pasti bukanlah jumlah yang tidak sedikit untuk sebuah angkatan dalam sebuah fakultas dan pasti sebuah rekor baru telah pecah sejak fapet berdiri tahun 1963. Bahkan jumlah ini merupakan angka tertinggi dalam sejarah penerimaan mahasiswa peternakan di tingkat nasional.

Banggakah? Sejujurnya harus saya katakan tidak. Dan,itu tidak ada urusannya dengan belas kasihan. Ini murni karena prediksi setelah lulus nanti, tidak mudah mencari kerja, sekarang maupun masa yang akan datang. Jumlah mahasiswa yang terlalu banyak akan membuat segalanya tidak efektif. Satu hal yang membuat sedih seorang dosen adalah kalau mendengar ada seorang alumni tidak mendapat kerja atau mohon maaf, lama menganggur.

"Kalau metode pembelajarannya cuman begitu-begitu saja, kelihatannya para mahasiswa harus lebih banyak belajar mandiri. Lebih strategis dan jauh lebih taktis. Softskill terbukti sangat menunjang pendewasaan dan memberi bekal untuk masa depan."

Kata orang, sukses mahasiswa diperuntukkan bagi mereka yang mau belajar. Namun kualitas proses pembelajaran memberi sumbangan penting bagi masa depan mereka. Dan, susahnya hal tersebut (kualitas itu) berkorelasi tinggi dengan sarana prasarana dan metode pembelajaran. Kalau metode pembelajarannya cuman begitu-begitu saja, kelihatannya para mahasiswa harus lebih banyak belajar mandiri. Lebih strategis dan jauh lebih taktis. Softskill terbukti sangat menunjang pendewasaan dan memberi bekal untuk masa depan.

Upacara hanya berlangsung sekitar satu setengah jam. Usai upacara saya bergegas kembali ke PPBS untuk melanjutkan kerja rutin. Banyak hal yang harus diselesaikan. Bukan hanya masalah PPBS namun juga PHKI, Reakreditasi Unpad, tugas-tugas ISO dan lain-lain. Sambil bekerja sesekali aku mendengarkan melalui Jango Online. Sebuah lantunan Ernestt Tubb, menghantam jantungku dan membuatnya berdebar-debar. Salah satu kesukaanku adalah Rainbow At Midnight. Sebuah lagu lama beberapa tahun sebelum jaman kemerdekaan yang menceritakan tentang impian seorang prajurit menjelang usai perang berakhir nanti.

After the war was over. I was coming home to you. I saw a rainbow at midnight. Out on the ocean blue. The stars in heaven were shining. The moon gave its light from above. I saw your face in this rainbow. And it made me think of our love. We'll build a home in the country. And make all our dreams come true. There we will make a heaven. Sweet heart, for just we two. Bintang-bintang di langit bersinar. Bulan memberikan cahayanya dari atas. Aku melihat wajahmu di pelangi ini. Dan itu membuat aku berpikir tentang, dst,dst.

Hampir tiap malam sambil kutak katik aku mendengarkan Jango online. Sebuah radio online via internet yang bisa memilih-milih lagu sambil berinteraksi dengan teman-teman sesama penggemar Jango. Sekarang komunitasnya sekitar 55217 users online. Belum banyak dibandingkan komunitas Fb atau twitter namun sebenarnya lebih menarik karena "mendengarkan kadang lebih baik daripada memberi komentar atau tweet-tweet".

Apakah mendengarkan musik itu membuang-buang waktu? Saya pikir belum tentu. Dalam hal-hal tertentu, musik sangat berperan membantu kita menemani belajar, bekerja dan yang jelas supaya ngga ngantuk. Dan sebagai bagian memberi apresiasi betapa hebatnya mereka yang berbakat, diberi kemampuan suara yang bagus dan bermain musik yang juga bagus-bagus. Tinggal yang harus dijaga adalah masalah keseimbangan.

Mengutip pendapat Aa Gym dalam Syahidfarm. Orang paling rugi di dunia ini adalah orang yang diberikan modal, tapi modal itu ia hamburkan sia-sia. Dan, modal termahal dalam hidup adalah waktu. Dalam QS Al-'Asher [103] ayat 1-3, Allah SWT berfirman bahwa untung ruginya manusia dapat diukur dari sikapnya terhadap waktu. Kalau ia berani menghamburkan waktunya, maka ia tergolong orang yang menyia-nyiakan kehidupan. Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan saling nasihat menasihati supaya menaati kebenaran dan nasihat menasihati supaya menetapi kesabaran.

Ada tiga jenis waktu. Pertama, masa lalu. Ia sudah lewat, sehingga ada di luar kontrol kita. Banyak orang sengsara hari ini gara-gara masa lalunya yang memalukan. Karena itu, kita harus selalu waspada jangan sampai masa lalu merusak hari kita. Kedua, masa depan. Kita sering panik menghadapi masa depan. Tanah kian mahal, pekerjaan semakin sulit, dan lainnya. Walau demikian, masa lalu dan masa depan kuncinya adalah hari ini. Inilah bentuk waktu yang ke tiga.

Jadi saya sangat setuju, pentingnya kita memanfaatkan waktu sebaik-baiknya. Ada pepatah sekali mendayung dua pulau terlampaui. Belajar efisien dan efektif sangat sulit namun bukannya tidak bisa dilakukan. Tak ada salahnya dengan fokus pada satu hal namun jika kita bisa mengerjakan satu atau dua hal lainnya, kenapa tidak?

Ada peribahasa lama yang mengatakan: Keingintahuan, benih kejeniusan, tumbuh kokoh jika terpuaskan. Jangan biarkan orang menghalangi keingintahuan anda yang kreatif. Semoga mahasiswa baru 2010, 4 tahun ke depan bisa menikmati impian-impian awal mereka. Tujuan mereka adalah menjadi ilmuwan.

Dan, sekedar mengingatkan apa kata Marie Curie: Ilmuwan, bukanlah sekedar seorang teknisi, dia juga seorang anak yang berhadapan dengan fenomena alam yang menarik seperti dongeng.

Selamat bergabung di Fapet tercinta!

Tulisan dan foto berasal dari halaman ini, buah tangan dari Mas Dwi Cipto.


Silakan copy-paste dengan tetap mencantumkan link sumber


No comments:

Post a Comment


[pulangkandang.com]-> [close]