11 November 2010

Relawan Ternak

Prof. drh. R. Wasito MSc. PhD

Seperti apa yang terbayang dari sebuah konsep nyata Unit Mobil Keliling Pakan Ternak Olahan yang pernah dilontarkan oleh A Rizaf Iskandar kepada Direktorat Jenderal Bina Produksi Peternakan, Departemen Pertanian, pada sekitar tahun 2004-2005? Namun sampai sekarang konsep tersebut belum terwujud. Seharusnya, kali ini, kita (baca:pemerintah) dapat melihat dan merasakan, bahwa konsep tersebut menjadi hal yang positif bagi produktivitas tidak hanya petani peternak, tetapi juga masyarakat Indonesia pada umumnya.

Konsep hijauan pakan ternak olahan sudah jadi keharusan dunia peternakan dan kesehatan hewan di Indonesia saat ini yang merupakan negara rawan bencana.

Pada peristiwa letusan vulkanik Gunung Merapi di Jawa Tengah, penulis banyak mendapatkan telpun maupun SMS tentang bagaimana caranya mengevakuasi bangkai hewan ternak korban bencana Merapi tersebut (sedikitnya tercatat 300 ekor sapi yang harus dimusnahkan) yang ramah lingkungan. Begitulah, setiap kali ada bencana, tidak hanya bencana Merapi, tetapi juga tsunami, selalu ribut karena fokus penganggulangan bencana hanya pada tanggap darurat. Dengan demikian, tidak heran, bahwa tidak ada Tim Relawan Ternak profesional, dan terkesan hanya diisi dengan personel dan peralatan ala kadarnya.

Masih segar dalam ingatan, sesaat sebelum Gunung Merapi mulai beraksi dan sebelum ada korban, imbauan bermakna dari Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X agar semua masyarakat di dekat lereng Gunung Merapi segera mau turun gunung banyak diberitakan. Beliau paham dan menghayati perilaku masyarakat berbagai daerah di sekitar lereng Gunung Merapi. Terbukti memang, setelah bermunculan warga korban bencana Merapi kembali hanya untuk memberi makan ternak. Harus diakui, tapi tampaknya, kita belum memahami jika negeri Indonesia ini adalah negara agraris yang mata pencaharian utamanya adalah bercocok tanam, bertani dan beternak.

Pernyataan simpati Presiden SBY agar semua tim dalam penanganan bencana harus terfokus patut diapresiasi. Peerintah mendata sapi milik korban Merapi dan sepakat untuk mengganti sapi-sapi korban Merapi sebesar Rp. 10.000.000,-/ekor perlu disambut gembira. Pembelian sapi-sapi tersebut tidak merugikan negara. Kedengaranannya enak, sapi akan diganti. Tetapi sebenarnya kenyataan di lapangan pasca bencana tidak semudah itu. Apalagi pada pemeliharaan hewan ternak pasca bencana, perlu lahan baru, air, pakan dan tenaga yang cukup dan memadai. Ini akan menjadi lebih rumit.

Kita harus bersungguh-sungguh dalam menggarap pembangunan di bidang peternakan dan kesehatan hewan pasca letusan vulkanik. Keberhasilan rehabilitasi ternak sapi, tidak dapat hanya dilihat dari segi pemenuhan dana tanggap darurat untuk sejumlah sapi. Belum lagi soal penyakit reproduksi tersembunyi yang mampu menurunkan produktivitas sapi itu sendiri, misalnya diare ganas pada sapi, yang kian hari kian perlu penanganan serius, masih banyak kita temukan.

Ada beberapa hal yang perlu lebih diperhatikan secara serius oleh pemerintah agar upaya-upaya penanggulangan hewan ternak pasca bencana menjadi lebih optimal di kemudian hari. Tampaknya, diperlukan pakar nutrisi klinik dan ilmu penyakit hewan pasca letusan vulkanik. Pakan konsentrat maupun jerami memang dapat diberikan sebagai pakan pada sapi. Tetapi, pada letusan vulkanik kemarin, hewan ternak sapi mengalami gangguan indigesti, sehingga yang cocok adalah pakan dalam bentuk rumput hijauan. Di sini, para pakar, terutama dokter hewan yang paham benar masalah ilmu nutrisi klinik dan ilmu penyakit hewan secara bersamaan dengan para warga masyarakat yang berprofesi sebagai petani peternak, pemerhati dan pemerduli peternakan dan kesehatan hewan dapat andil dalam memberikan perhatian dunia usaha hijauan pakan ternak yang terjangkau. Hal tersebut ideal karena menyatukan pakar dan petani peternak. Pada saat dan/ataupun pasca letusan vulkanik maupun tsunami mereka dapat memberikan bantuan secara cepat dan tepat guna.

Sinergi dengan kegiatan pelestarian lingkungan, relawan ternak juga dapat berperan aktif sebagai koordinator pengawas dan pelaksana budidaya hijauan pakan ternak dan pemberdayaan masyarakat petani peternak. Termasuk utamanya pemasok kebutuhan pakan ternak olahan maupun hijauan segar untuk para petani peternak dan penanganan kesehatan hewan secara komprehensif. Relawan ternak dapat menolong petani peternak setiap saat terjadi paceklik hewan ternak maupun pakan ternak pasca bencana.

Proses pemulihan yang mulus akan sangat bergantung pada jaminan akan layanan dasar yang diperlukan bagi para petani peternak dipenuhi ataukah tidak. Tujuan utama dari Relawan Ternak sebenarnya dalah merivatalisasi peternakan dan kesehatan hewan yang boleh dikata stagnan di Indonesia sebagai negara agraris yang rawan gempa.

(Penulis, Guru Besar Ilmu Penyakit Hewan UGM dan Dirjen Bina Produksi Peternakan, Departemen Pertanian, Jakarta 2004-2005)

sumber: Kolom Analisis Harian Kedaulatan Rakyat, hal depan (edisi 11 November 2010)



Silakan copy-paste dengan tetap mencantumkan link sumber


No comments:

Post a Comment


[pulangkandang.com]-> [close]