02 January 2011

Politik Jagung di Industri Pangan Modern

TEMPO Interaktif, Jakarta - Sebuah pepatah mengatakan: Anda adalah apa yang Anda makan. Tapi tahukah apa yang sebenarnya Anda makan? Michael Pollan, profesor jurnalistik di University of California Berkeley dan kontributor majalah The New York Times, menjawab pertanyaan itu melalui bukunya, The Omnivore's Dilemma: A Natural History of Four Meals. Buku ini diterbitkan Penguin Books pada 2007 dan diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dengan judul Fakta Mengejutkan Makanan Modern.

Pollan mengkritik sistem industri pangan modern Amerika Serikat yang dianggapnya tak efisien, merusak siklus panen alamiah dan ternak, merusak lingkungan, serta mengganggu kesehatan. Kritik itu diuraikan melalui serangkaian investigasi terhadap alur rantai makanan modern.

Investigasi dimulai dengan mengurai sejarah berlimpahnya panen jagung di Amerika. Menurut dia, titik awal industrialisasi pangan modern terjadi pada 1947. Saat itu perang dunia baru saja usai, dan Amerika memiliki sisa persediaan amonium nitrat---bahan utama pembuatan peledak--yang berlimpah. Agar tak rugi, zat kimia itu dijadikan pupuk dengan merombak pabrik mesiu di Muscle Shoals, Alabama.

Dari semua tanaman, hanya jagung yang bisa beradaptasi dengan pupuk kimia. Setiap tahun Amerika memanen setidaknya 90 ribu buah jagung (12 ton), dari kebutuhan nasional 18 ribu buah per tahun. Kelebihan itu kemudian diolah menjadi pakan sapi dan bahan tambahan makanan.

Pascaperang dunia, menurut Pollan, Amerika memiliki kawasan khusus penggemukan ternak (CAFO). Sapi, yang seharusnya makan rumput, diberi remah-remah jagung yang telah diolah, ditambah suplemen protein, lemak dalam jumlah besar, dan segudang obat-obatan baru. Hasilnya, bobot sapi potong bisa mencapai 600 kilogram pada umur 14-16 bulan. Padahal sapi pemakan rumput butuh 3-5 tahun untuk mencapai berat itu.

Hasilnya, bobot sapi potong bisa mencapai 600 kilogram pada umur 14-16 bulan. Padahal sapi pemakan rumput butuh 3-5 tahun untuk mencapai berat itu.

Menurut Pollan, daging dari sapi pemakan jagung tak terlalu menyehatkan karena mengandung lebih banyak lemak jenuh dan lebih sedikit asam lemak omega 3 ketimbang sapi pemakan rumput.

Di pabrik pengolah makanan, jagung diolah menjadi bahan tambahan makanan, seperti sirop glukosa, HCFS, etanol, pati, MSG, asam laktat, dan bentuk tambahan makanan. “Jagung menjadi produk tambahan utama dalam hampir semua produk makanan olahan,” tulisnya. Penggunaan pemanis olahan tersebut berisiko memicu peningkatan jumlah pengidap obesitas, diabetes tipe 2, dan penyakit jantung.

Bagaimana jagung merusak lingkungan? Menurut Pollan, ladang-ladang jagung menguapkan kelebihan nitrogen ke udara, yang meningkatkan keasaman air hujan dan berkontribusi pada pemanasan global. Kelebihan nitrogen juga terserap ke dalam tanah, mengubah nitrat dalam air menjadi nitrit yang bisa mengganggu fungsi pengangkutan oksigen ke otak.
Kotoran sapi yang diberi pakan jagung juga tak bisa dijadikan kompos, karena kadar nitrogen dan fosfornya terlalu tinggi. “Tanaman bisa mati,” tulisnya.

Pada bab selanjutnya, tulisan Pollan menjadi lebih ringan. Ketika memaparkan operasi makanan organik, misalnya, dia dengan mendetail memaparkan bagaimana rahasia asparagus dan sayuran musim panas dari Argentina bisa menempuh 10 ribu kilometer untuk mencapai kota tempat tinggalnya, Berkeley, di musim salju, dalam keadaan segar.

Ternyata sayuran organik yang konon sehat itu dikemas menggunakan nitrogen sintetis. Akibatnya, sel-sel dedaunan ini tumbuh lebih lambat, memiliki dinding sel yang lebih tebal, dan menyerap lebih sedikit air sehingga tahan lama. Meski mendukung sayuran organik, Pollan menganggap, “Makanan konvensional yang dipanen segar memiliki rasa yang lebih baik ketimbang makanan yang diangkut selama tiga hari,” tulisnya.

Menurut Pollan, peternak, pemburu, dan pengumpul makanan masa kini yang mengkonsumsi daging hewan liar justru lebih sehat, “Tidak bermasalah dengan kesehatan jantung.”

Buku ini mendukung siklus makanan alamiah dan mengkritik industri pangan modern. Pollan membangun fakta-fakta itu dengan cara yang menyenangkan, runut, dan mendetail. Pendapat dan pikiran para vegetarian dan aktivis pembela hak hewan yang menolak “pembantaian” ternak dan hewan di rumah jagal tak lupa ia paparkan.

Penerjemah buku ini mengalihbahasakan kata per kata. Meski terjemahannya cukup baik, gaya bahasa Pollan yang penuh humor Amerika dan perumpamaan khas Barat akan lebih menarik bila dibaca dalam versi aslinya.

Pollan meraih berbagai penghargaan dari buku ini. Antara lain, medali emas nonfiksi California Book Award, pemenang nonfiksi Bay Area Book Award 2007, dan pemenang James Beard Book Award 2007. Berkat buku ini pula Pollan masuk daftar 100 orang paling berpengaruh versi majalah Time.

AMANDRA MUSTIKA MEGARANI

Judul: Fakta Mengejutkan Makanan Modern
Pengarang: Michael Pollan
Penerbit: Qanita
Edisi: November 2010
Tebal: 290 Halaman

sumber artikel: tempointeraktif.com (Minggu, 02 Januari 2011 | 05:22 WIB)
silakan kunjungi juga situs Pollan ini: The Omnivore's Dilemma



Silakan copy-paste dengan tetap mencantumkan link sumber


No comments:

Post a Comment


[pulangkandang.com]-> [close]