M. Fatah Wiyatna, Wujudkan Sampah Sebagai Sumber Energi di Perumahan

Beberapa tahun terakhir, istilah biogas semakin akrab di telinga masyarakat kita. Telah banyak terobosan teknologi tepat guna yang diciptakan baik kalangan praktisi, akademisi maupun masyarakat umum. Bahkan, sebagian masyarakat telah menggunakan teknologi energi alternatif terbarukan ini sebagai pemenuhan kebutuhan bahan bakar sehari-hari.

Biogas dari kotoran ternak atau biogas dari limbah tahu telah seringkali kita dengar. Namun, biogas juga dapat diperoleh dari sampah. Sampah organik ternyata dapat diolah dan menghasilkan gas yang sangat bermanfaat, ditambah lagi dengan penggunaan teknologi yang terbukti ramah dengan lingkungan.

Jika kita berbicara pemanfatan sampah, Muhammad Fatah Wiyatna adalah salah satu ahlinya. Pada pertengahan tahun 2010 lalu, namanya banyak muncul di berbagai media cetak dan elektronik, baik di media lokal maupun media nasional. Dosen Fakultas Peternakan Unpad ini membuat terobosan dengan memanfaatkan sampah organik menjadi biogas bernilai guna yang ia sebut dengan nama Biomethagreen.

"Pada tahun 2008, saya melihat kondisi sampah yang ada di perumahan saya sendiri. Jika melewati tempat sampah, sangat menganggu penciuman. Apalagi sejak tahun 2005, Kota Bandung memiliki masalah besar dengan sampah. Saya berpikir apakah ada solusi dalam mengatasi hal ini. Setidaknya berawal dari lingkungan rumah saya sendiri," ujarnya saat ditemui di kantor Pusat Penelitian dan Pengembangan Dinamika Pembangunan (PDP) Unpad, Gedung 4, Kampus Unpad, Jln. Dipati Ukur No. 35, Bandung, belum lama ini.

Sebelum mengawali karirnya menjadi dosen, Fatah yang lulus dari Fakultas Peternakan Unpad tahun 1993 (beliau adalah alumni dari Angkatan 1988 (Ibex), red.) ini sempat melanglang di beberapa perusahaan seperti perusahaan di bidang perternakan, asuransi Islam, dan lembaga keuangan syariah atau BMT yang saat itu berlokasi di Sumedang. Saat ditanya mengenai cita-cita setelah lulus kuliah, Ia mengaku saat itu tidak tahu ingin menjadi apa. Baginya, peluang dan kesempatan lah yang dapat mengubah segala. Di tahun 1999, ia kemudian melanjutkan S2 dan saat ini masih menjadi mahasiswa S3 ilmu peternakan di Institut Pertanian Bogor (IPB).

"Akhirnya pada tahun 1997, saya mengikuti seleksi di Unpad dan kemudian berkesempatan menjadi dosen di sini," kata pria yang saat ini menjabat sebagai Ketua Divisi Pengelolaan Lingkungan, Bidang Pengembangan Masyarakat Puslitbang Dinamika Pembangunan LPPM Unpad.

Terkait karyanya ini, ia mengatakan bahwa memang di Fakultas Peternakan tidak diajarkan seperti apa mengelola sampah, tapi yang diajarkan bagaimana mengelola limbah kotoran ternak. Melalui proses fermentasi, kotoran ternak dapat dijadikan pupuk dan biogas.

"Untuk bisa menghasilkan biogas ini ternyata bukan dari kotoran peternakan saja. Saya punya ide dengan sampah, karena melihat kondisi di lingkungan saya tersebut. Banyak yang ragu, apa iya bisa dengan sampah ini?" ungkap Fatah.

Ia melanjutkan, atas pemikirannya tersebut ia terus bertanya-tanya dan sempat berdiskusi dengan rekan-rekan lainnya. Untuk tahu jawabannya, ia rasa satu-satunya cara adalah dengan mencobanya sendiri dirumah walaupun secara tertutup.

"Saya buat instalasi yang biasa digunakan untuk fermentasi kotoran peternakan. Instalasi ini tertutup di belakang rumah. Karena kalau ada yang aneh-aneh biasanya akan mengundang pertanyaan warga setempat," kata pria kelahiran Subang, 23 Oktober 1969 ini.

Fatah mengaku, dana awal yang ia keluarkan dalam masa percobaannya ini total sebesar 15 juta rupiah yang keseluruhannya merupakan dana pribadi. Selama 2 tahun tersebut, telah banyak mengalami penyesuaian.

"Kemudian dengan berbagai evaluasi, desain, dan bahan, ternyata memang bisa dilakukan. Saya cerita sama teman-teman yang saat ini satu tim, dan mereka ketika itu tidak percaya," tambahnya, yang juga mengatakan untuk keperluan gas rumah tangga, ia tidak lagi menggunakan gas elpiji, tapi menggunakan biogas yang ia hasilkan sendiri dirumahnya.

Setelah banyak diberitakan media masaa, karyanya kemudian berkembang. Pada Agustus 2010 lalu, Yayasan Saung Kadeudeuh Bandung dan Yayasan Cinta Anak Pertiwi bersama-sama dengan PT PLN Distribusi Jawa Barat dan Banten (DJBB) mengembangkan pengelolaan sampah perkotaan menjadi energi di kompleks-kompleks perumahan. Ia kemudian membina masyarakat membangun instalasi pengolahan sampah organik menjadi energi di kompleks tempat ia tinggal, yaitu perumahan Griya Taman Lestari, Kecamatan Gudang Tanjungsari, Sumedang.

"Ini perumahan pertama di Indonesia yang memanfaatkan sampah sebagai sumber energi," tuturnya.

Ia kemudian diminta berbicara di berbagai media. Tanggapan masyarakat semakin baik. Kompleks percontohan ini banyak menarik minat, dari masyarakat di daerah lain, sampai dengan instansi-instansi pemerintah.

"Di beberapa wilayah saya banyak diminta untuk datang. Bukan hanya itu, saat ini juga saya bersama tim yang salah satunya Direktur Marketing PT. Biomethagreen Lingga Lestari, Edwin Berlian ini sedang menjajaki kerjasama dengan PD. Kebersihan Kota Bandung dan IPDN dalam pengelolaan sampah yang ramah lingkungan tersebut," lengkapnya.

Dosen mata kuliah produksi ternak potong ini kemudian berharap konsep yang ditawarkan tersebut jangan hanya menjadi suatu instalasi, yang ketika sudah dipasang, kemudian ditinggalkan.

"Maka sementara ini saya akan fokus di sini. Kalau bangunan ini tidak dikelola dengan baik, ini akan menjadi sampah," kata suami dari Inna Samsuminar, S.P tersebut.

Bapak dari 3 orang anak in kemudian memiliki cita-cita, yaitu menginginkan hasil karyanya ini tidak lantas menjadi monumen karena ditinggalkan, tapi dapat terus berguna bagi masyarakat luas. (eh)*

Laporan oleh: Lydia Okva Anjelia

sumber: www.unpad.ac.id
Silakan baca juga liputan di majalah.tempointeraktif.com

Post a Comment

No comments