Itik Duo, Itik Unggul yang Tidak Amis dan Cepat Gede (1)

Permintaan daging itik terus meningkat membuat peternak itik ketiban rezeki. Ini seperti yang dirasakan peternak itik duo di Serang, Banten. Itik duo hanya membutuhkan waktu 45 hari untuk bisa dipanen. Daging yang tebal dan tak amis membuat itik ini kian diminati.

Konsumsi daging bebek atau itik nasional terus meningkat. Terus berkembangnya kuliner bebek membuat daging unggas ini semakin diminati.

Data Kementerian Pertanian menunjukkan, pada tahun 2005 produksi daging itik mencapai 21.351 ton, meningkat menjadi 24.531 ton tahun 2006. Produksi paling besar pada 2007 mencapai 44.105 ton, 30.980 ton pada 2008 dan data sementara tahun 2009 sebesar 31.945 ton.

Walaupun jumlah produksinya besar, namun sampai sekarang kebutuhan daging itik belum sepenuhnya terpenuhi. Irwan, Ketua Kelompok Penetas dan Petelur Itik (KPPI) di Serang mengatakan, saat ini seluruh peternak itik di Serang belum mampu memenuhi kebutuhan daging itik lokal. "Kami masih harus mendatangkan bibit dari Medan, jadi belum bisa maksimal," katanya.

Tiap minggu, Irwan mengaku hanya bisa menyediakan sekitar 700 ekor itik pedaging. Dengan jumlah penjualan itu, tiap bulan dia bisa mengantongi omzet lebih dari Rp 40 juta dan keuntungan sekitar 15% dari total omzet.

Namun itik yang disediakan oleh Irwan bukanlah itik biasa, sebab dia hanya membudidayakan itik duo atau sering disebut itik MA 2000. Itik duo yang juga disebut itik raja ratu merupakan varietas unggul hasil persilangan itik mojosari yang unggul dalam produksi telur dengan bebek alabio asal Kalimantan Selatan yang unggul dalam produksi daging.

Keunggulan lainnya, itik duo hanya butuh waktu 45 hari sampai 50 hari untuk bisa dijual atau konsumsi. Berbeda dengan itik biasa yang baru bisa dipanen setelah berumur 5 bulan.

Dengan waktu yang singkat, peternak bisa menghasilkan bebek berbobot 1,2 kilogram (kg) sampai 1,4 kg. Dari berat bebek tersebut, 62% dari bobot itu adalah daging.

Menurut Irwan, kontur daging itik duo lebih tebal dan berisi. "Dagingnya juga tidak berbau amis seperti itik lainnya," katanya. Selain itu, jenis itik ini juga lebih tahan terhadap penyakit dan stres.

Selain Irwan, salah satu peternak itik duo yang lain adalah Yayat Supriyatna, anggota perternakan Ratu FM di Kabupaten Serang. Menurutnya, potensi pasar daging itik, terutama itik duo, masih terbuka luas. Di Serang saat ini baru ada empat peternak besar yang fokus beternak itik duo.

Untuk memenuhi seluruh pesanan, Yayat bekerja sama dengan empat peternak plasma. Dia hanya menyediakan bibit atau day old duck (DOD) yang didatangkan dari Medan, sedangkan peternak plasma bertugas memelihara sampai panen. Yayat mengaku, saban minggu bisa memanen sekitar 500 itik duo.

Beternak itik duo lebih menguntungkan lagi, selain cepat panen, harga dagingnya juga lebih tinggi. Saat ini per kilogram daging itik duo mencapai Rp 18.000 dalam keadaan hidup. Harga ini akan melonjak hingga Rp 23.000 jika bebek dijual dalam bentuk karkas atau hanya diambil dagingnya saja tanpa jeroan.

Adapun bebek karkas lengkap dengan jeroan dan telah dikemas dijual dengan harga Rp 27.000 per ekor. Namun, "Daripada keuntungan jatuh ke tangan pengepul, saya lebih suka menjual bebek ungkep siap masak seharga Rp 33.000 per ekor," kata Irwan.

(Bersambung)

sumber: Kontan Online

Post a Comment

No comments