03 November 2011

Andai Engkau Terbuka Padaku...


Di lingkungan sekitar namanya dikenal sebagai Ibu Purnomo, merupakan sosok ibu muda yang telah dikarunai 2 orang anak yang masih duduk dibangku Sekolah Dasar. Dalam upaya menopang kehidupan sehari-harinya, ibu muda ini senantiasa mengandalkan gaji dari sang suami, yaitu Pak Purnomo. Tanggal-tanggal muda merupakan hari-hari yang selalu dinantikannya, karena pada saat-saat seperti itu sudah menjadi rutinitas Pak Purnomo memberikan uang gaji, dan ibu muda ini bertanggung jawab mengelola keuangan tersebut, yang dirasakannya sangat berat untuk mencukupi kehidupan keluarga sampai awal bulan berikutnya.

Waktu terus bergulir tahun demi tahun telah dilaluinya Ibu Purnomo sudah tidak muda lagi, dan tanpa terasa buah hati mereka sekarang telah sama-sama duduk di bangku perguruan tinggi. Keadaan telah jauh berubah. Ibu Purnomo yang dulunya selalu mengharapkan cepat datangnya awal bulan untuk menerima uang gaji suaminya sekarang sudah tidak lagi demikian, akan tetapi yang diharapkannya adalah uang-uang sampingan dari suaminya, yang jumlahnya jauh sangat lebih besar dari uang gaji yang secara rutinitas diterima setiap bulannya. Hal ini konon dikarenakan suaminya telah menduduki jabatan penting ditempat kerjanya.

Kini Ibu dan Bapak Purnomo tampak selalu terseyum melewati hari-harinya dan nama keluarganya pun menjadi harum sebagai keluarga yang dermawan. Hal ini dikarenakan banyaknya dana-dana yang mengalir dari tangan mereka untuk menunjang kegiatan-kegiatan sosial, bantuan kepada orang-orang yang membutuhkan maupun kegiatan keagamaan.

Namun rupanya senyum yang selalu menghias keluarga ini tiba-tiba lenyap, dan pada saat itu Ibu Purnomo badannya menggigil. Kupingnya panas seakan-akan ada semut api menggigit-gigit gendang telinganya takala mendengar ada isu-isu bahwa suaminya terlibat kasus korupsi dikantornya. Ibu purnomo mulai emosi sambil mengomel, "Tak mungkin suami saya melakukan perbuatan bodoh itu, suami saya itu selalu ringan tangan untuk membantu orang-orang yang meminta pertolongan, dan ibadahnya pun rajin tak pernah melupakan Tuhannya."

"Ini pasti ada orang yang iri yang mau menggeser jabatan suami saya!" gumamnya.

Hari-hari yang sangat tidak diinginkan dan sangat menakutkan bagi Ibu Purnomo akhirnya sampai juga. Suami yang selama ini menjadi tempat meminta dan mencurahkan isi hatinya, divonis oleh pengadilan untuk menjalani kehidupan di balik penjara selama 5 tahun. Sang suami telah terbukti melakukan tindak pidana korupsi dan dilakukan penyitaan terhadap harta-hartanya yang diperoleh secara tidak sah untuk kemudian menjadi milik negara.

Setelah mendengar putusan tersebut, Ibu Purnomo menangis dan tampak wajahnya pucat, didalam hatinya menjerit "Ya Allah... harus disembunyikan dimana rasa malu ini? Bagaimana tanggapan orang-orang yang telah menerima bantuan, bila mereka tahu uangnya adalah uang haram? Bagaimana nasib anak-anakku kelak, sanggupkah mereka meneruskan kuliahnya? Dan sanggupkah kami sekeluarga menerima cemoohan dari orang-orang atas perbuatan suami saya? Yang lebih saya takutkan ya Allah… azab apakah yang akan dikenakan pada suami saya, karena selama ini wajahnya selalu mendekat kepada-Mu akan tetapi hatinya menjauh dari-Mu?"

Tampak wajah Ibu Purnomo semakin pucat dan tubuhnya menjadi lemas. Ia pun akhirnya jatuh pingsan.

Dari cuplikan cerita tersebut diatas, siapakah yang bersalah sehingga akhirnya tragedi itu menimpa keluarga Bapak Purnomo? Ada sebagian yang mengatakan bahwa kesalahan ini disebabkan oleh Bapak Purnomo, dan sebagian lagi berpendapat disebabkan oleh ibu Purnomo.

Baiklah kalau kita kaji ulang, pada dasarnya kesalahan ini dilakukan oleh kedua-duanya. Seandainya ada keterbukaan diantara mereka, dimana pihak suami mau berterus terang darimana uang-uang yang didapat selama itu, maka bukan tidak mungkin pihak istri akan menolak untuk menerimanya bila uang itu di dapat dari hasil yang tidak benar. Bisa juga dari pihak istri yang selalu mau bertanya, darimana asalnya uang tambahan yang selalu diterimanya. Apakah itu uang halal? Untuk melindungi anak-anaknya untuk tidak memanfaatkan apapun yang berasal dari uang yang haram, bukan tidak mungkin pihak suami tidak akan melalukan perbuatan-perbuatan tercela yang dilarang oleh Tuhannya.

Bagi orang-orang yang masih punya keimanan, nasib dari keluarga Bapak Purnomo ini boleh dikatakan masih beruntung karena pada sisa usianya keluarga ini masih dapat memperbaiki kehidupan selanjutnya untuk mempertanggung-jawabkan kepada Sang Maha Pencipta segala apa yang pernah diperbuatnya… Akan tetapi bagi mereka-mereka yang sampai akhir hayatnya masih menyandang gelar orang dermawan dari hasil uang-uang haram, yang selalu berusaha berkelit agar tidak terjangkau oleh jerat hukum, maka tidak akan ada kesempatan lagi untuk memperbaiki segala kesalahan yang telah diperbuatnya. Pengadilan Tuhan-lah yang akan langsung mendakwanya, sungguh sangat sangat menakutkan.

Dengan melihat kenyataan yang ada, maka untuk menghindari kejadian tersebut yang akan menebarkan aroma bau busuk kepada seluruh keluarga dan kerabat hendaknya kita lebih mawas diri dan mempertebal iman masing-masing, serta membudayakan keterbukaan diantara suami, istri dan anak-anak secara bijak didalam mengelola bahtera keluarga.

Bagaimana dengan keluarga anda? Apakah istri/suami anda pernah bertanya darimanakah uang itu didapat dan untuk apa uang itu dipergunakan? Selagi ada waktu, mari kita memperbaiki segala kesalahan yang telah kita perbuat. Semoga Tuhan selalu melindungi dan memberikan kemudahan dalam mengarungi bahtera kehidupan kita semua. Amin ya robbal alamin... Semoga Tuhan selalu mengabulkan doa kita...

Tulisan ini karya kenangan dari alm. Kang Hirawan Purawiraja (angkatan 1976), yang berjudul asli "Keimanan dan Keterbukaan Dalam Keluarga (Kiriman Sahabatku)". Beliau telah berpulang ke hadirat-Nya pada hari Rabu 26 Oktober 2011. Semoga amal kebaikan Kang Hirawan menjadi penerang di alam kubur dan mengalirkan pahala tak henti yang membawa ketenangan dan kebahagiaan....



Silakan copy-paste dengan tetap mencantumkan link sumber


No comments:

Post a Comment


[pulangkandang.com]-> [close]