Raih Emas di SEA Games, Devina Pramudita Tak Ingin Tinggalkan Kuliah

Gegap gempita pesta olah raga SEA Games XXVI telah berakhir. Namun, euforianya masih terasa terutama ketika menyambut para atlit yang pulang dengan membawa segudang prestasi. Sebanyak 182 emas telah diraih Indonesia, dan salah satunya diraih oleh Devina Pramudita.

Atlit sepatu roda asal Bekasi, Jawa Barat ini adalah mahasiswa Fakultas Peternakan (Fapet) Unpad. Walaupun sulit membagi waktu latihan dengan kuliah, mahasiswi angkatan 2010 ini mengaku kuliah adalah hal penting yang tidak ingin ia tinggalkan.

“Keteteran juga membagi waktu latihan dan kuliah. Sampai-sampai ada banyak yang bertanya dengan tegas, “Kamu pilih sepatu roda atau kuliah?” Bagi saya, mau lepas sepatu roda, saya belum bisa. Mau keluar kuliah, sebisa mungkin jangan terjadi,” tutur Devina saat ditemui di Lobi Rektorat, Gedung 1 Kampus Unpad Jln. Dipati Ukur No.35 Bandung, Rabu (23/11).

Pada SEA Games XXVI lalu, Devina menjadi salah satu penyumbang emas dalam cabang olah raga Sepatu Roda. Ketika itu, tim sepatu roda Indonesia sukses menyapu bersih medali pada hari pertama pelaksanaan SEA Games. Sukses menjuarai nomor 300 meter ITT, Devina berhasil mencatatkan waktu tercepat dengan 30,45 detik. Ia unggul atas atlet Indonesia lainnya, Karimawati Aisha yang membukukan waktu 30,86 detik. Sementara itu, perunggu diraih atlet Singapura, Rui Jun Rebecca Chew dengan 33,53 detik.

“Ini adalah kali pertamanya saya ikut SEA Games. Cabor sepatu roda memang cabor baru yang dipertandingkan,” kata gadis yang telah main sepatu roda sejak umur 5 tahun ini. Bahkan saat masih duduk di bangku Sekolah Dasar (SD), ia mewakili daerahnya, mengikuti sejumlah kejuaraan nasional, seperti Pekan Olah Raga Nasional (PON).

Kembali pada masalah yang memang sering dihadapi para atlit Indonesia. Para atlit memang seringkali merasa bimbang ketika harus membagi waktunya dengan kegiatan akademis. Hal tersebut juga dialami gadis kelahiran 6 Desember 1992 ini. Ia memang baru merasakan duduk di bangku kuliah selama satu semester. Terpaksa mengambil cuti dalam waktu tertentu , Devina mengucapkan terima kasih kepada pihak fakultas dan universitas yang juga telah mendukungnya.

“Temen-temen pun ngedukung. Tapi semuanya berpesan jangan sampai saya nggak kuliah. Untuk pilihan sepatu roda, terkadang kesempatan tidak akan datang dua kali. Tapi kuliah juga penting,” lengkapnya.

Walaupun sepatu roda dan kuliah jadi pilihan yang sulit, Devina mengaku tidak akan terlalu mengandalkan sepatu roda dalam hidupnya. Menurutnya, Atlit tidak selamanya berada dalam posisi golden age.

“Mungkin, saat ini masa golden age saya sebagai atlit. Tapi kan tidak akan selamanya. Jadi walau bagaimanapun juga, saya harus kuliah,” katanya. Kuliah di Fakultas Peternakan menurutnya cukup menarik. Bisa jadi ia nantinya akan berwirausaha di bidang peternakan.

Soal bonus sebanyak Rp 200 juta dari pemerintah yang akan diterimanya oleh setiap peraih medali emas, Devina tak ingin nasibnya nanti sama seperti atlit-atlit senior yang malah mengalami kesulitan ekonomi di hari tua. Gadis yang tergabung di tim Perserosi Bekasi ini mengaku akan mendepositokan dan menggunakan uangnya untuk masa depan.

“Lalu, tahun depan Akan ada Asian Beach Games (ABG) dan juga PON. Dalam Pekan olah raga nasional nanti, saya akan membela Jawa Barat,” jelas Devina yang kembali harus memilih antara fokus dalam akademis dan kegiatan di luar akademis. Namun, ia akan berusaha sebisa mungkin untuk tidak meninggalkan keduanya.

Selamat dan sukses Devina!

sumber: http://www.unpad.ac.id/archives/49199 (&milis)
credit to: Andi Sobandi Wahri

Post a Comment

No comments