25 April 2012

10 Anggapan yang Salah tentang Sukses

Siapakah yang dapat digolongkan sebagai alumni Fakultas Peternakan Unpad yang sukses? Apakah mereka yang paling kaya, paling tinggi jabatannya, paling berpengaruh atau yang bagaimana? Parameter pengukuran kesuksesan seseorang ternyata tidak selalu sama, dan persepsi manusia tentang makna sukses sendiri terkadang dilandasi anggapan yang salah.

Tulisan dalam blog hadiedadiwiratama setidaknya dapat menjadi tambahan referensi sebelum kita melanjutkan pembahasan tentang sukses tidaknya seseorang. Berikut kutipannya, semoga bermanfaat.


Menurut kebanyakan orang, sukses itu identik dengan uang, jika bisa menghasilkan uang banyak dan kaya raya maka dianggap sukses. Seorang motivator seperti Mario Teguh pun berkata kalau laki-laki yang sukses adalah yang mampu mencari uang lebih dari yang dibelanjakan istrinya. Pada intinya semua selalu UUD (ujung-ujungnya duit).

Betulkah sukses identik dengan gelimang uang? Ternyata tidak. Sebuah survey yang dilakukan sebuah majalah di Amerika Serikat menunjukkan kecenderungan bahwa sukses sangat berhubungan dengan pekerjaan. Selain itu, juga berkaitan dengan popularitas dan aktualisasi.

Setiap orang memiliki definisi yang berbeda mengenai makna sukses. Seorang dokter akan mengatakan sukses jika berhasil menyembuhkan pasiennya. Lain lagi bagi seorang guru, dia akan merasa sukses jika anak didiknya berhasil menyerap ilmu yang dia transferkan. Sedangkan Marketer akan mengatakan sukses jika produknya berhasil diserap pasar. “When the mind thinks of success, the outside world mirrors these thoughts,” kata Remez Sasson.

Disamping itu, masih banyak yang salah mengerti akan “faktor penyebab” berhasilnya diraih sukses, antara lain:

1. Menganggap sukses identik dengan tingkat pendidikan yang tinggi. Kenyataannya, tidaklah selalu demikian. Banyak dijumpai orang–orang yang tingkat edukasinya rendah (bukan Sarjana atau bahkan tidak sampai tamat SMA) tetapi sukses dalam bisnis bahkan jadi konglomerat. Mereka – mereka ini bisa sukses karena piawai dan jeli melihat peluang yang ada. ”Your mind is the generator of failure, and also the generator of success,” kata Remez Sasson

2. Menganggap sukses identik dengan tidak melakukan kesalahan. Siapa yang tidak akan pernah melakukan kesalahan ? Justru karena melalui kesalahanlah, Thomas Alfa Edison sukses menemukan listrik. ”Strong people make as many mistakes as weak people. Difference is that strong people admit their mistakes, laugh at them, learn from them. That is how they become strong,” kata Richard Needham.

3. Menganggap sukses identik dengan kerja yang tanpa adanya batasan waktu. Kerja tanpa adanya batasan waktu, menunjukkan bahwa orang tersebut tidak professional pada pekerjaannya karena tidak memiliki time management. Seorang professional, tahu benar kapan harus mengawali dan mengakhiri pekerjaannya dengan hasil yang terbaik. Professionalism: "It’s NOT the job you DO, It’s HOW you DO the job."

4. Menganggap sukses identik dengan birokrasi yang sudah ditentukan. Di era yang serba praktis, semua bentuk birokrasi yang bertele–tele, complicated dan rumit, sudah sewajarnya disederhanakan. Karena selain tidak efisien, juga akan menurunkan produktivitas. “Professionalism knows how to do it, when to do it, and doing it,” kata Frank Tyger.

5. Menganggap sukses identik dengan petunjuk atasan. Petunjuk dibutuhkan jika acuan kerja belum ada atau masih ragu dan bimbang. Kemandirian dan kreativitas tidak akan timbul atau berkembang jika selalu tergantung pada orang lain. ”Professional are people who do jobs well even when they don’t feel like it”

6. Menganggap sukses identik dengan keberuntungan. Tanpa adanya usaha yang ulet, semangat dan serius, tidaklah mungkin keberuntungan akan mendatangi diri seseorang ibarat hujan emas dari langit. “The golden opportunity you are seeking is in yourself. It is not in your environment; it is not in luck or chance, or the help of others; it is in yourself alone,” kata Orison Swett Marden.

7. Menganggap sukses identik dengan banyak uang. Sejujurnya, uang memang dibutuhkan tetapi jika tidak tahu cara memanfaatkannya secara bijaksana maka seseorang tidak saja akan menjadi budak bagi uangnya tetapi juga tidak akan bisa menjadi tuan bagi uangnya. “Money is better than poverty, if only for financial reasons,” kata Woody Allen.

8. Menganggap sukses identik dengan pengakuan. Logikanya, sukses yang sesungguhnya adalah didasarkan oleh apa yang tertampak / nyata dan bukanlah dikarenakan oleh pengakuan atau penilaian dari orang lain. “There are things to confess that enrich the world, and things that need not be said,” kata Joni Mitchell.

9. Menganggap sukses identik dengan tercapainya tujuan. Tujuan adalah sasaran yang ingin dicapai tetapi itu bukanlah akhir dari perjalanan. Tetapi adalah awal tujuan yang lain. “We are made wise not by the recollection of our past, but by the responsibility for our future,” kata George Bernard Shaw.

10. Menganggap sukses identik dengan berakhirnya kesulitan. Hidup adalah perjuangan yang penuh dengan rintangan dan tantangan. Yang namanya kesulitan, pasti akan dialami. Yang menjadi masalah, mau atau tidak dihadapi. Jika lari dari kenyataan atau tidak mau menghadapinya maka sampai kapanpun juga, kesulitan tersebut selain tidak akan bisa tersirnakan, kuantitasnya juga akan semakin banyak. “In the middle of every difficulty lies opportunity,” kata Albert Einstein. Sukses atau tidak dalam hidup ini, Andalah yang tahu atau jadi penentunya. “Attaining peace of mind, happiness and good relationships also mean success,” kata Remez Sasson.

Bagaimana anggapan Anda tentang alumni Fakultas Peternakan yang sukses?


Silakan copy-paste dengan tetap mencantumkan link sumber


No comments:

Post a Comment


[pulangkandang.com]-> [close]