Apa Penyebab Produksi Telur Ayam Turun Drastis di Bulan Ramadhan?

Pertanyaan tersebut muncul pada suatu hari di tahun 70-an, ditujukan pada seorang calon sarjana yang sedang mengikuti ujian sidang kelulusan. Tiba-tiba ruangan yang sudah terasa sesak semakin menghimpitnya, membuat sisa konsentrasi yang dipertahankannya meluruh lagi. Masa itu sebuah sidang sarjana tak ubahnya seperti pengadilan untuk seorang terdakwa.

Dosen penguji yang hadir tidak sedikit seperti sekarang ini, melainkan jumlahnya banyak dengan membawa karakter masing-masing. Alat bantu 'persidangan' belum secanggih sekarang, ketika laptop atau notebook menjadi senjata penting membantu pembuktian hasil penelitian 'sang terdakwa'. Jangankan infocus, OHP pun belum ada! Sarana seperti itu belum hadir, sehingga kemampuan calon sarjana dalam menjelaskan materi secara verbal memiliki fungsi yang sangat vital.


Sekarang keadaan sudah berbeda karena lebih baik dan semua serba canggih. Waktu itu para mahasiswa Fapet Unpad mengetik skripsi/thesis masih memakai mesin tik dengan huruf standar/pica, sementara sekarang para kandidat sarjana sudah mennggunakan PC/Laptop/Notebook dan piranti lainnya.

"Dulu kalau mengetik dengan font huruf yang bisa bermacam-macam harus memakai mesin tik elektronik IBM yang paling mutakhir," ungkap sang mantan calon sarjana, Kang Idi Purwoko, seorang alumni dari angkatan 1972.

Kembali ke kisah persidangan. Menerima pertanyaan tentang penyebab turunnya produksi telur di bulan ramadhan, ia harus berpikir keras dan menyajikan argumentasi yang meyakinkan. Setiap peluang jawaban yang dirasa meyakinkan, ia paparkan kepada pengunjung sidang, dan terutama para dosen penguji.

Ternyata, terlalu jauh berpikir malah dapat menjadi bumerang. Sembari mengingat kilasan kenangan masa lalu, Kang Idi menuturkan, "Karena yang ditanya terlalu jauh berpikir, sampai jawabannya ngalor-ngidul... Wis gugup jawab, dibentak sekalian, tambah buyar mikire..."

Apa jawaban yang benar? Jawaban yg diminta oleh dosen penguji adalah: "Petasan atau mercon yg diledakan disekitar peternakan ayam tersebut!" Penjelasannya adalah ayam menjadi stress berat dan produksi telur turun drastis, walaupun unggas-unggas tersebut sudah diberi obat antistress dengan harapan produksi telur stabil.

Ah, ada ada saja ulah dosen penguji yang iseng. Itulah sekelumit pengalaman jaman susah menjadi mahasiswa untuk meraih gelar sarjana, kenang Kang Idi.

Post a Comment

No comments