Catatan Perjalanan Rombongan Mahasiswa Fapet Unpad & Unibraw di Australia

Alice Springs (ASP) adalah kota paling selatan di Northern Territory dan berbatasan langsung dengan negara bagian Australia Selatan dan Queensland. Berbeda dengan di Darwin, suhu di ASP sangat dingin, bahkan saat malam bisa mencapai 10-15 0C. Memang tidak jauh berbeda dengan kota-kota di Indonesia, namun yang membuat suhu disini relatif ekstrim adalah angin dingin yang berhembus sangat kencang.

Delapan orang mahasiswa Fakultas Peternakan Unpad dan Brawijaya dijadwalkan berada di Alice Spring selama 6 hari, tepatnya di Bohning Catttle Yard (tempat peristirahatan sapi setelah melakukan perjalanan jauh), untuk melakukan pelatihan tentang tata cara bekerja di lokasi peternakan sapi di Australia.

Sebagai peserta pelatihan juga dilibatkan masyarakat lokal keturunan suku aborigin, karena Pemerintah NT juga memiliki program pelatihan peternak bagi penduduk lokal. Hal ini memiliki daya tarik tersendiri, karena adanya pertukaran kebudayaan antara peserta pelatihan. Dallas salah satu peserta keturunan suku aborigin dengan akrab menyapa 8 Mahasiswa Fakultas Peternakan dan berkata “Ayo Makan” sambil bercerita tentang pengalamannya mengikuti ekskul Bahasa Indonesia saat di SMA

Di hari pertama, tanggal 26 April 2012 peserta mendalami materi mengenai rumput yang ditanam di Australia yang disampaikan oleh Tony Freshwater dari NTCA. Terdapat 2 jenis rumput yang ditanam di Australia, yaitu rumput asli Australia dan rumput dari Afrika. Rumput yang umumnya ditanam di Australia adalah jenis rumput Buffel yang memiliki kandungan protein sampai 12%, rumput ini juga cepat tumbuh namun cepat juga menguning.

Bersama Jim Willoughby dan Hay yang terbuat dari rumput oats berumur 3 tahun

Sementara itu Jim Willoughby (Operations Manager Bohning Cattle Yard) juga mengajak 8 mahasiswa untuk melihat jerami dari daun oats. Menurutnya jerami jenis ini memiliki kualitas yang bagus, proteinnya mencapai 7-9 % dan umurnya bisa mencapai 3 tahun lebih dan didatangkan dari Australia Selatan. Setelah mengenal macam-macam rumput dan jerami, para mahasiswa dilatih menggiring sapi tanpa membuat ternak tersebut stress.

Di hari kedua, Mick Armstrong dan Clark Petrick (Training Staffs Bohning Cattle Yard) mengajarkan mahasiswa menunggangi kuda dan mengendarai motorbike (motor kros) dan quadbike (Atv). Umumnya peternakan sapi di Australia menggunakan kuda, motorbike dan quadbike pada saat proses mustering (panen sapi). Dalam proses mustering digunakan dua jenis kendaraan tersebut untuk menggiring sapi, bahkan sebagian besar peternakan juga menggunakan helikopter untuk menggiring sapi.

Pada hari ketiga peserta dilibatkan secara langsung dalam proses mustering. Mereka dilibatkan dalam pengecekan pagar (fencing), menggiring sapi (stocking), pemilihan sapi (drafting), tes kehamilan (pregnant test), penandaan sapi (tagging) dan pemotongan tanduk (dehorning).

Untuk dua hari terakhir peserta pelatihanan diberikan materi tentang Keselamatan Kerja (work safety) dan Pertolongan Pertama Pada Kecelakaan (First Aid). Pemberian materi dilakukan di kelas oleh staff yang berasal dari Pemerintah NT dan rumah sakit setempat.Setelah program pelatihan ini selesai 8 mahasiswa dijadwalkan kembali lagi ke Darwin untuk dibagi menjadi dua kelompok dan melakukan praktek kerja lapangan di Cattle Reseach Farm milik Pemerintah NT .

Penulis: Wahyu Ramdani, Mahasiswa Fakultas Peternakan Universitas Padjajaran (wahyuramdani@yahoo.com)
Link: www.kemlu.go.id

Post a Comment

No comments