Kekurangan Fisik Tak Halangi Triyono Jadi Peternak Sukses

Berbekal semangat dan keberanian mencoba, Triyono berhasil mengembangkan usaha peternakan. Kekurangan fisik dan kegagalan yang sempat dialaminya dalam memulai usaha tidak membuat semangat alumnus Jurusan Peternakan Universitas Sebelas Maret (UNS), Surakarta, ini surut.

Triyono terkena penyakit polio pada usia 1,5 tahun. Gara-gara penyakit ini, dua kakinya tidak bisa tumbuh sejak berusia lima tahun sehingga dia harus berjalan dengan menggunakan alat bantu.

Namun demikian, kekurangan fisik ini justru memotivasi Triyono untuk sukses dan berhasil. Warga Dukuh Teplok RT 2/IX, Desa Mancasan, Kecamatan Baki, Sukoharjo, Jawa Tengah, ini tidak pernah menyangka peternakan akan menjadi usahanya.

Awalnya Triyono bercita-cita menjadi dokter ataupun menggeluti bidang elektronika. ”Saya sempat kuliah jurusan teknik elektro, tetapi karena tidak nyaman, saya putuskan akhirnya untuk mengambil jurusan lain,” ujarnya.

Kuliah di jurusan peternakan diakuinya sebagai ”kecelakaan” lantaran waktu itu pilihan pertamanya adalah kedokteran. Akhirnya Triyono dapat menyelesaikan kuliah di Jurusan Peternakan UNS Solo pada 2007. Kini, Triyono telah meraih kesuksesan. Usaha peternakan di bawah bendera CV Tri Agri Aurum Multifarm (CV Tama) yang dikelolanya mampu membukukan omzet miliaran rupiah per tahun.

Berkat keberhasilannya itu pula Triyono terpilih sebagai Finalis Nasional Wirausaha Muda Mandiri 2010. Dia mengaku senang mengikuti ajang Wirausaha Muda Mandiri yang diselenggarakan Bank Mandiri tersebut. Ajang itu sangat menginspirasi dan mendorong para pengusaha muda melakukan inovasi. ”Program Wirausaha Muda Mandiri membuat kita yakin mampu jadi usahawan mandiri, bahkan bisa menciptakan lapangan pekerjaan,” ujarnya.

Bahkan, Triyono bersama finalis lainnya mendapat kesempatan mengikuti pameran dan berbagai pelatihan serta seminar wirausaha yang diselenggarakan Bank Mandiri. Mengenang masa lalu, Triyono mengaku keberhasilan sebagai peternak didapatkan dengan tidak mudah. Dirinya sempat mengalami kegagalan dua kali saat memulai bisnis. Pada 2005, dengan statusnya sebagai mahasiswa, Triyono memulai usaha bebek potong jantan.

Usaha ini hanya bertahan satu tahun karena berbagai masalah dan kendala. Pada 2006, Triyono kembali memulai usaha lain di bidang yang berbeda, yakni usaha percetakan. Sayang, usaha kedua ini kembali gagal karena pasarnya lesu. ”Usaha kedua itu hanya bertahan tujuh bulan,” kenangnya. Tak jera berwirausaha, setelah lulus kuliah, tepatnya pada Oktober 2007, Triyono kembali terjun ke dunia bisnis.

Memanfaatkan momentum Hari Raya Kurban, dia mencoba berbisnis jual beli sapi. Lajang berusia 29 tahun ini mengaku tidak mengeluarkan modal sepeser pun lantaran hanya menjadi perantara warga yang memiliki sapi dan ingin menjualnya saat Idul Adha. Tanpa diduga, usaha ini ternyata cukup berhasil. Dia mendapatkan untung Rp20 juta. Berbekal uang tersebut, awal 2008 Triyono memutuskan untuk serius menggeluti bisnis peternakan.

Dana Rp. 20 juta dia gunakan untuk membangun kandang sapi. Namun, lantaran keterbatasan modal, Triyono lantas mencari investor. Dia mengajak teman dan kenalannya untuk berinvestasi penggemukan sapi. ”Waktu itu cukup banyak yang menjadi investor sehingga akhir 2008 populasi sapi sudah mencapai 60 ekor,” paparnya. Kandang penggemukan sapi terletak di lahan milik temannya di Dukuh Kwanggan, Desa Gentan, Kecamatan Bendosari, Sukoharjo.

Saat usaha mulai berkembang, Triyono mengajak warga setempat mengikuti jejaknya dengan membuat kelompok-kelompok. Usaha tersebut terus berkembang. Pada tahun 2009, nilai investasi sudah mencapai Rp600 juta. Setengah dari jumlah uang tersebut dia gunakan untuk melebarkan sayap bisnis dengan membuat kandang ayam potong. Demi melegalkan usaha, Triyono mendirikan CV Tama.

Dia bertindak sebagai direktur di CV tersebut. Usaha CV Tama terus berkembang hingga seperti sekarang. Menurut Triyono, selain budi daya ayam potong dan sapi, dirinya juga membuat tempat pemotongan ayam di rumahnya. Daging ayam lantas dia setorkan ke rumah makan, katering, maupun warga sekitar. Adapun untuk sapi, selain untuk memenuhi pasar lokal, juga dikirim ke Solo, Semarang, dan Jakarta.

Triyono dibantu 11 karyawan dalam menjalankan bisnis peternakannya. Saat ini, Triyono mengaku sudah memiliki 25 ribu ekor ayam. Satu lokasi peternakan berada di Dukuh Rejosari, Desa Rejosari, Kecamatan Polokarto, dan satu lokasi lainnya berada di Dukuh Gempol, Desa Mertan, Kecamatan Bendosari. Triyono optimistis usahanya akan terus berkembang.

Keterbatasan fisik yang dia miliki justru membuatnya bersemangat untuk bisa sukses. ”Saya termotivasi selama hidup harus punya apa-apa dan siapa-siapa,” tandasnya. Dia terobsesi untuk mendirikan industri daging sapi kemasan.

Triyono berencana mengemas daging sapi dengan merek sendiri. Untuk itu, dirinya mulai mencari jaringan untuk memasarkan produk daging sapinya. Jika jaringan pemasaran telah siap, industri daging sapi kemasan akan dimulai.

Sumber artikel: sindonews.com
Foto: google

Post a Comment

No comments