01 May 2012

Kelompok Tani Serba Jadi, Contoh Sukses Peternak Sapi


Di mana ada kemauan, di situ ada jalan. Pepatah lama ini cocok untuk menggambarkan langkah Kelompok Tani Serba Jadi, untuk menggapai sukses dalam usahanya, terutama di bidang peternakan sapi. Puluhan tahun menjalankan usaha tersebut, kini anggota kelompok ini kian merasakan sukses dari kerja keras dan ketekunannya.

Kiat mereka, para anggota Kelompok Tani Serba Jadi, untuk mampu membina usaha yang berhasil memang kemauan dan ketekunan. Kini, predikat kelompok tani/ternak teladan se Sumatera Utara telah mereka kantongi, suatu motivasi agar mampu berbuat yang lebih baik di masa mendatang.

“Kelompok tani ini memang sudah berdiri sejak 1970. Beranggotakan 18 orang, yang belakangan memang lebih banyak fokus di bidang usaha peternakan, selain tetap menjalankan usaha pertanian,” kata Ketua Kelompok Tani Serba Jadi, Bonawan, membuka percakapan ketika disambangi MedanBisnis di kediamannya yang sekaligus dijadikan lokasi usaha peternakan kelompoknya, di Jalan Marelan IX/Pasar I Gang Serba Jadi, Kelurahan Tanah 600, Kecamatan Medan Marelan, Kota Medan.

Sukses Kelompok Tani Serba Jadi diraih, setelah mereka dipercaya mengelola program Serjana Membangun Desa (SMD) dari pemerintah pusat.

“Masuknya program SMD makin mengarahkan kelompok kami, untuk makin serius membina usaha. Apalagi di sini, ada dana pemerintah yang diamanahkan untuk kami kelola dan kembangkan, sehingga tanggungjawab pasti juga lebih besar,” kata Bonawan.

Pria tua berkacamata ini menerangkan, program SMD datang dari Departemen Pertanian (Deptan) sejak akhir 2009 lalu. Mereka mendapat kucuran dana sebesar lebih kurang Rp 300 juta, yang kemudian dibelikan 32 ekor sapi berusia 3-4 tahun serta membangun kandang dan penyediaan sarana lainnya di atas lahan milik pribadi seluas 1.200 m2.

Dan sesuai nama programnya, kepada kelompok ini juga disertakan seorang sarjana lulusan Institut Pertanian Bogor, Dini Julia Sari, untuk menjadi pendamping.

“Program ini akan berjalan selama tiga tahun. Dalam arti, selama tiga tahun itu usaha yang kami jalankan masih dalam pengawasan Deptan, sebelum nanti dilepas sepenuhnya. Syaratnya tentu, dana yang dikucurkan Deptan dipergunakan sebenar-benarnya, jangan sampai berkurang namun sebaiknya bertambah,” jelas Bonawan.

Kini, satu tahun program tersebut berjalan. Bonawan mengaku, ada peningkatan modal dari yang semula mereka terima dari Deptan. “Dari segi jumlah ternak, memang berkurang karena hari ini tinggal 30 ekor. Namun, di rekening kelompok ada sekitar Rp 50 juta, hasil penjualan sapi yang selama setahun ini kami usahakan lewat program penggemukan dan pengembangan,” terang pria ramah dan murah senyum ini.

Soal jumlah ternak di kandang, menurut Bonawan, memang sewaktu-waktu bisa berkurang, atau bertambah. Ini tergantung penjualan dan pembelian yang mereka lakukan.

“Kalau itu sapi hasil penggemukan, kan kapan saja bisa dijual. Walau baru satu minggu kita beli, kalau sudah ada tawaran konsumen yang cocok, ya langsung kami jual. Sementara pengembangan, tentu anakan yang baru dilahirkan sapi induk, itu yang kita pelihara sampai mencapai usia yang layak jual,” ujar pria, yang sebelum mengelola program ini, lebih fokus pada usaha jual beli sapi.

Sistem kerja kelompok ini, menurut Bonawan, diatur dan disusun sebaik mungkin. Dari 18 orang anggota, dipilih sejumlah pengurus yang menjalankan administrasi kelompok, selain dia sebagai ketua juga ada sekretaris yang dijabat Surip serta bendahara Purwanto.

“Kami juga sering dibantu PPL dari Dinas Petanian, Perikanan dan Kelautan Medan, Hanum, serta tenaga kesehatan dari dinas yang sama, Muhammad Imin. Tentu saja, tenaga pendamping dari program SMD tadi. Pokoknya, semua struktur tersusun dan berjalan bagus,” imbuh Bonawan.

Demikian juga halnya dengan pembagian keuntungan. Kelompok ini menerapkan sistem transparansi, serta variasi pembagian keuntungan berdasarkan kinerja. Ada penilaian kinerja lewat absensi harian dan rapat-rapat rutin yang digelar tiap minggu (untuk pengurus) serta minimal satu bulan sekali (untuk seluruh anggota).

“Dalam setahun ini, sudah ada sekitar Rp 30 juta, total keuntungan yang dibagi untuk seluruh anggota kelompok,” tambahnya.

Sistem yang berjalan dengan baik, dengan pencapaian hasil yang signifikan itu pula, membuat kelompok ini pada tahun lalu terpilih menjadi kelompok teladan atau menduduki ranking pertama kelompok ternak terbaik se Sumatera Utara, hasil penilaian Deptan dari sekitar 13 kelompok yang dinilai.

“Adanya program SMD ini, memang berdampak besar bagi kehidupan ekonomi kelompok tani kami. Kalau selama ini, kemampuan kami agak kurang, tapi sekarang sudah cukup lumayan untuk menambah penghasilan,” ucapnya.

Satu lagi, yang membuat Kelompok Tani Serba Jadi makin diakui sebagai yang terbaik, adalah ditunjuknya mereka sebagai lokasi penelitian mahasiswa Fakultas Peternakan Universitas Sumatera Utara (USU) dan Universitas Panca Budi (Unpab) Medan yang akan meraih gelar sarjana.

Materi penelitian para mahasiswa tersebut, mulai dari penyediaan pakan hingga produksi. Dan tentunya, mahasiswa tersebut menggunakan berbagai perlakuan, untuk ternak sapinya. Menurut Bonawan, tidak ada masalah bagi mereka, karena tinggal disesuaikan saja dengan metode pemeliharaan mereka.

“Ya, baguslah. Justru terkadang, ada inovasi baru yang mereka bawa ke kami, atau sebaliknya kami memberi sedikit informasi ke mereka. Saling bantu lah,” katanya.

Bahkan, bagi sebagian mahasiswa, mereka juga menjalankan fungsi sosial, yakni membantu mahasiswa asal daerah yang jauh dan memiliki biaya pas-pasan, untuk menetap di kediaman Bonawan.

“Gratis, tanpa dipungut biaya. Kami sekadar menerima imbalan tenaga mereka, untuk membantu mengurus ternak di sini. Sekaligus kan, untuk memberi pengalaman lapangan bagi mereka,” kata Bonawan, yang saat ini tengah memberi “tumpangan” bagi mahasiswa Unpab asal Ujung Gading, Sumatera Barat. (eko hendra)

sumber: medanbisnisdaily.com


Silakan copy-paste dengan tetap mencantumkan link sumber


No comments:

Post a Comment


[pulangkandang.com]-> [close]