Titik Kritis Kehalalan Susu Cair

Menurut pakar halal dari Institut Pertanian Bogor (IPB), Dr Ir Anton Apriyantono, kini banyak beredar jenis produk olahan susu cair. Mulai dari susu pasteurisasi, susu sterilisasi, susu evaporasi, susu kental manis, susu dengan berbagai jenis flavor seperti stroberi, cokelat, dan vanila.

Ia mengatakan, dalam kasus susu bubuk, salah satu yang patut dicermati ialah jenis penyalut yang digunakan. Bila berasal dari tanaman seperti pati termodifikasi, gum, dan maltodekstrin yang berasal dari tanaman maka tidak bermasalah. Tetapi, bila berupa gelatin maka masih dipertanyakan kehalalannya. “Status gelatin masih syubhat,” tulisnya.

Maka, lanjut Anton, ada beberapa titik kritis dari sejumlah jenis produk susu cair dengan perincian sebagai berikut. Pertama, susu pasteurisasi, yaitu susu (biasanya susu sapi) yang dipasteurisasi (dipanaskan pada suhu dan waktu tertentu untuk tujuan membunuh kuman yang menimbulkan penyakit/patogen) dan dikemas dalam wadah tetrapack atau wadah lainnya yang sesuai.

Jika tidak ada tambahan apa-apa, khususnya perisa (flavor) maka kehalalan susu pasteurisasi tidak bermasalah. Yang harus diperhatikan adalah bahwa susu pasteurisasi harus disimpan di lemari es (suhu dingin) karena tidak awet dan keawetan susu pasteurisasi yang disimpan di lemari es tidak lebih dari empat hari.

“Masalahnya, cukup banyak pada saat ini susu pasteurisasi yang sudah ditambah perisa (flavor), seperti flavor cokelat, vanila, dan stroberi. Padahal status perisa adalah syubhat sehingga susu pasteurisasi berflavor yang tidak dijamin kehalalannya berstatus syubhat,” jelas Anton.

Kedua, susu sterilisasi. Susu jenis ini adalah susu yang disterilisasi (sebagian besar mikroorganisme yang ada di dalam susu dibunuh) biasanya dengan menggunakan proses ultra high temperature (UHT), yaitu suhu yang relatif tinggi dan waktu yang relatif singkat.

Itu sebabnya, di pasaran susu sterilisasi dikenal juga dengan nama susu UHT. Dengan menggunakan proses ini maka susu menjadi awet di satu sisi, di sisi lain flavor susu masih relatif terjaga, tidak terlalu menyimpang (tidak mengalami off-flavour).

Status kehalalan susu sterilisasi, menurut Anton Apriyantono, sama dengan susu pasteurisasi.

Yang harus diperhatikan adalah jika susu sterilisasi ini sudah dibuka kemasannya maka harus disimpan di lemari es dan tidak boleh disimpan di lemari es lebih dari tiga hari, karena dalam keadaan terbuka menjadi tidak awet lagi mengingat mikroorganisme dapat tumbuh pada susu sterilisasi yang telah dibuka kemasannya.

Ia menambahkan, hal lain yang perlu diwaspadai pada susu sterilisasi karena dalam pembuatan susu sterilisasi tidak selalu menggunakan susu murni segar, tetapi bisa menggunakan apa yang disebut dengan susu rekombinasi atau campuran susu murni dengan bahan lain (biasanya susu skim dan lemak susu).

“Susu rekombinasi adalah susu yang dibuat dengan cara mencampurkan susu skim dengan lemak susu. Tidak tertutup kemungkinan susu rekombinasi dibuat dengan mencampurkan bukan hanya susu skim dan lemak susu, melainkan juga whey, sementara statusnya masih syubhat,” papar Anton.

Di samping itu, pada produk susu sterilisasi, selain ada penambahan perisa, juga ada penambahan pengemulsi (emulsifier) dan penstabil (stabiliser).

Status kehalalan kedua bahan aditif ini syubhat karena dalam pembuatan emulsifier kebanyakan melibatkan asam lemak yang bisa berasal dari hewan, sedangkan salah satu jenis penstabil adalah gelatin yang berstatus syubhat.

“Walaupun demikian, tentu saja produk susu sterilisasi yang telah dijamin kehalalannya (ada tanda halalnya) tidak bermasalah karena menggunakan pengemulsi dan penstabil yang halal,” ujarnya.

Ketiga, ialah susu evaporasi, yaitu susu yang dikentalkan dengan cara evaporasi (penguapan). Sebagian air yang ada di dalam susu dihilangkan. Jika hanya menggunakan susu murni, maka tidak ada masalah dengan kehalalan susu evaporasi.

Tetapi, jika menggunakan susu rekombinasi atau pencampuran susu murni dengan bahan lain, maka seperti yang terjadi pada susu sterilisasi, yaitu status susu evaporasi yang dibuat dengan cara tersebut menjadi syubhat.

Oleh karena itu, dalam esainya yang berjudul “Titik Kritis Kehalalan Susu Cair dan Bubuk” yang diunggah di laman facebook Komunitas Halal-Enak-Baik, ia menyarankan masyarakat memilih produk yang telah mendapatkan sertifikat halal. Indikasi kehalalan itu ditandai dengan adanya label halal resmi pada kemasan produk tersebut.

sumber: republika (link 1 & link 2)

Post a Comment

No comments