Belajar dari Malin, Peternak Sapi Sukses dari Tanah Datar

Tulisan pada laman situs Ciputra Entrepreneurship dibawah ini dapat menjadi inspirasi, bahwa usaha peternakan dapat dimulai kapan pun. Tidak ada kata terlambat untuk memulai sesuatu yang baik. Sosok peternak yang ditampilkan, justru memulai keberahasilannya dari puing kegagalan usaha sebelumnya. Ketekunan belajar dan berusaha, membuahkan keberhasilan yang manis. Berikut laporannya:

Peternak Sukses Pencipta Pupuk Cair dari Air Seni Sapi


Penghentian ekspor sapi ke Indonesia yang diberlakukan pemerintah Australia seharusnya menjadi momen yang sangat tepat untuk meningkatkan produktivitas sapi lokal. Semenjak sapi impor masuk tanah air, industri peternakan sapi lokal semakin tersingkir. Padahal, tak sedikit peternakan sapi yang dikelola dengan teknik tinggi hingga hasilkan sapi yang tak kalah berkualitasnya dengan sapi impor. Seperti peternakan sapi yang dikelola oleh Malin Nasir.

Malin, demikian ia disapa, adalah pemilik peternakan sapi bernama Tanjung Abadi. Peternakan yang terletak di Tanjunglurah, Salimpauang, Tanah Datar, Sumatra Barat ini fokus pada usaha pembibitan sapi. Mempunyai 38 ekor sapi yang terdiri dari 32 sapi betina dan 6 sapi jantan, Malin membudidayanya sendiri dengan bantuan 1 orang karyawan tetap dan 3 orang karyawan tak tetap.

Usaha ternak sapi ini bukanlah agrobisnis pertama yang dijalankan Malin. Awalnya tanpa bekal pengalaman sama sekali, ia mengelola kebun cabai yang membawanya pada kesuksesan besar bahkan saat krisis tahun 1998 menghajar perekonomian Indonesia. Hasil panen cabai Malin yang sukses itu mampu membangun rumah untuk keluarganya dan berbuah mobil pick-up untuk mendukung usahanya.

Beberapa tahun setelah masa kejayaannya itu, hama penyakit menyerang perkebunan cabai Malin. Roda bisnis ayah dari lima orang anak ini berubah drastis. Panen tak bisa diselamatkan dan Malin merugi besar. Bermodal sisa laba kebun cabai sebesar Rp 9 juta, Malin banting stir menjadi peternak. Seperti pengelolaan kebun cabainya, Malin melakoni usaha ternak sapi ini dari nol.

Sembari menimba ilmu dari majalah pertanian dan peternakan luar negeri, Malin mengumpulkan modal dengan meladang dan memelihara sapi milik orang lain. Keuletan menimba ilmu secara otodidak itu malah membuatnya sukses memproduksi pupuk kompos dan pupuk cair dari air seni sapi yang bernilai ekonomis. Hebatnya lagi, pupuk-pupuk itu dihasilkannya tanpa alat modern dan hasilnya sudah lolos uji laboratorium pertanian. Dengan kata lain, pupuk racikan Malin bisa dimanfaatkan dan dibeli petani.

Dari hanya sekedar memelihara sapi, Malin menciptakan peluang usaha baru berkat keseriusan serta keuletannya. Pupuk kompos hasil olahan limbah dan kotoran peternakannya dijual seharga Rp1.000/kg atau Rp35 ribu/karung. Untuk pupuk cair, Malin menjualnya seharga Rp20 ribu/liter. Sementara untuk hasil peranakan sapi, yang jantan dijual Rp18 juta per ekor dan yang betina dijadikan bibit baru. Agrowisata juga dapat terlahir dari usaha peternakannya ini. Peternakan Malin yang bersih, asri dan mirip dengan ranch di luar negeri membuatnya jadi tempat peristrahatan bagi sejumlah kalangan.

Kini, selain disibukkan oleh usaha pembibitan dan budi daya sapi di peternakannya, Malin juga sering menerima kunjungan dari Dinas Peternakan setempat berkenaan dengan studi banding. Meski hanya tamatan sekolah menengah, Malin menjadi guru serta panutan dalam usaha pembibitan dan pembudidayaan ternak sapi.

sumber: ciputraentrepreneurship.com

Post a Comment

No comments