25 September 2012

Kisah Surabi yang Lekat di Hati

Kisah-kisah mengikuti masa bimbingan (mabim) mahasiswa baru Fakultas Peternakan Unpad bersahut-sahutan dalam percakapan di dunia maya, tetapi kebanyakan penutur menjadikannya kenangan penuh kesan yang tak terlupakan. Beberapa saja yang menempatkannya sebagai trauma psikologis yang layak dijadikan keluh kesah berkepanjangan, apalagi dendam tak kesampaian.

Kasih sayang Akang/Euceu senior yang menjadi panitia mabim lazimnya dibumbui oleh kampanye-kampanye tertentu, baik menyangkut pengenalan dunia profesi, kemahasiswaan maupun kepedulian terhadap budaya lokal. Tak heran jika terdapat tugas-tugas mabim yang membuat adik baru menjadi 'melek' terhadap banyak hal.

Contoh kasus kali ini adalah doktrinasi sukses panitia mabim Fapet Unpad terhadap juniornya dalam hal menanamkan (paksa) kecintaan pada makanan lokal orang Sunda bernama surabi (serabi).


Surabi adalah makanan khas Jawa Barat yang terbuat dari tepung beras, dan menurut wikipedia surabi serupa dengan pancake (pannekoek atau pannenkoek). Surabi hangat akan terasa nikmat jika dinikmati pagi hari, apalagi jika dilengapi dengan sruputan teh manis atau kopi.

Sayangnya, menikmati surabi dibawah pressure ketat pasukan tatib yang sadis sangat berbeda rasanya, meski soal kesan sebagai hasil akhirnya jangan ditanya betapa manjurnya. Selama paling kurang 17 (tujuh belas) tahun sesudah kejadian menyantap surabi mabim, alumni Fapet Unpad yang mengalaminya tetap masih mengingatnya.

Paling tidak hal itu yang diakui oleh salah seorang 'korban' mabim bernama Kang Agus, yang berasal dari angkatan '95 Fapet Unpad.

Pasal utama penyebab Kang Agus masih mengingat episode surabi bukanlah karena rasa yang kurang maknyus, terlalu asin, atau kepedasan sambalnya... atau waktu makan yang kurang..., melainkan jatah porsi yang terlalu amat sangat keterlaluan sedikit sekali.

"Surabi 2 biji...," tutur Kang Agus setengah mengeluh, "dibagi ku saangkatan, dua ratus tilu belas (213) orang... Jadina kabagean sacuil sewang... Ti mana piwaregeun...?"

Nah, ini cerita Kang Agus, mana cerita Akang/Euceu? Silakan berbagi via form ini.


Silakan copy-paste dengan tetap mencantumkan link sumber


No comments:

Post a Comment


[pulangkandang.com]-> [close]