Ada Sapi Diantara Dahlan Dan Senayan

Sapi menjadi ikon berita yang cukup fenomenal di minggu lepas, tidak hanya karena menjadi tenak yang dijadikan hewan kurban pada perayaan Idul Adha 1433 H, tetapi juga karena telah menjadi pilihan seorang menteri di negeri ini.

Cerita sapi yang mengamuk sebelum disembelih tetap menarik untuk disajikan media, tetapi berita tentang Dahlan Iskan, menteri BUMN, mengunjungi peternakan sapi lebih menjadi sorotan utama. Bukan salah peternakannya, apalagi sapinya, melainkan karena kunjungan tersebut menghalangi kehadiran Dahlan dalam rapat dengan Komisi VII DPR RI. Rapat tersebut digelar untuk menjelaskan temuan BPK mengenai inefisiensi PLN yang konon membuat kerugian 37 triliun rupiah.

Para anggota dewan murka. Kamis 25/10/2012 detik.com bahkan menulis judul cukup unik, "Bhatoegana: Komisi VII DPR Marah Sama Dahlan Karena Sapi". Judul-judul serupa digunakan oleh berbagai media, melambungkan sapi dalam posisi yang lebih terhormat daripada yang dialaminya selama ini.

Tengok saja judul berita Kompas pada 2/8/2011, "Praktek Sapi Perah BUMN Masih Berlangsung". Media ini mengutip pernyataan pengamat Ichsanudin Noorsyi yang meyakini praktek menjadikan BUMN sebagai sumber dana bagi partai politik masih berlangsung. Penggunaan istilah 'sapi perah' menempatkan sapi pada posisi yang berkonotasi negatif, pasif dan memprihatinkan.

Dahlan dan sapi-sapi ISS (foto: bumn.go.id)
Lantas ketika sapi berada diantara dirinya dan Senayan, apakah memang sudah sedemikian pentingkah posisinya bagi menteri Dahlan? Nampaknya demikian, karena sapi yang dikunjunginya adalah 2000 ekor yang dipelihara di PTPN VI, dan merupakan bagian dari 10 ribu ekor yang menjadi jatah perusahaan BUMN tersebut. Perusahaan memelihara dengan program Integrasi Sapi Sawit (ISS).

PTPN VI merupakah salah satu perusahaan milik negara yang mendapat bagian dalam program pemeliharaan sapi oleh BUMN. Sang menteri, sebagaimana dilansir Kompas, telah membawa kementriannya untuk mendukung swasembada daging nasional dengan memelihara 100 ribu ekor sapi di tahun 2012.

PTPN VI terletak di Desa Sebo, kecamatan Jambi Luar Kota, kabupaten Muaro Jambi dan terletak 60 kilometer dari kota Jambi. Peternakan menempati lahan 9,2 hektar dan menampung 1.400 ekor sapi. 600 ekor sapi lainnya dipelihara di tempat terpisah. Ladang rumput gajah seluar 7 hektar juga dibuka untuk mendukung peternakan tersebut.

Program ISS digulirkan dalam bentuk penggemukan dan pembiakan sapi. PTPN memberi bantuan kredit bibit sapi dan pakan murah untuk para petani. Menteri Dahlan berharap hal tersebut dapat menjawab kurangnya minat petani untuk beternak karena mahalnya pakan. Ia sendiri menilai perkembangan petenakan yang sudah dikunjungan delapan bulan sebelumnya sebagai 'demikian baik'.

Mengingat rekam jejak beberapa BUMN dalam program-program di masa lalu, beberapa alumni Fapet Unpad cukup berhati-hati dan bersikap kritis dalam menganggapi keterlibatan perusahaan plat merah dalam mendukung subsektor peternakan.

Mampukah Dahlan membuktikan optimisme yang membuatnya rela bangun pagi menengok sapi? Waktu yang akan menjawabnya, dan semoga demikian.

Post a Comment

No comments