Dibalik Pelarangan Penjualan Sapi Kurban dari TPA Sampah

Hari Raya Idul Adha merupakan momen penting umat Islam yang berkaitan erat dengan dunia peternakan. Ibadah kurban mendatangkan banyak pasokan ternak layak potong yang sesuai dengan kebutuhan dan ketentuan untuk memenuhi permintaan pasar yang cukup besar. Berbagai alternatif penyediaan sumber ternak menjadi jawaban.

Sebuah stasiun televisi nasional hari ini kembali mengangkat keberadaan sapi-sapi yang dipelihara di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) sampah di Jawa Tengah. Sekitar 1000 ekor sapi dibiarkan bebas mencari makan dari tumpukan sampah yang setiap hari menggunung di Jatibarang Semarang.

ilustrasi: kawanan sapi memakan sampah di TPA Suwung Bali (sumber: antarafoto.com)
Sapi-sapi yang tampak sehat dan tubuhnya berisi tersebut menggantungkan hidupnya dari memakan sampah. Sayangnya, selain mendapat makanan sisa, berbagai bahan tak sehat juga ikut masuk kedalam tubuhnya. Penelitian dari para peneliti Universitas Diponegoro Semarang sudah membuktikan bahwa sapi-sapi tersebut telah terkontaminasi oleh logam berat, semisal merkuri dan timbal. Temuan tersebut telah menjadi dasar pihak berwenang untuk melarang penjualan sapi TPA sebagai hewan kurban.

Para peneliti merekomendasikan agar sapi-sapi tersebut 'dipulihkan' kesehatannya sebelum dijual, dengan cara dipelihara minimal selama satu bulan diluar TPA dan diberikan 'makanan sehat' terutama rumput-rumputan segar. Sejauh mana hasil treatment tersebut dalam mereduksi kandungan logam berbahaya dalam daging sapi TPA, tidak/belum ada berita lebih lanjut.

Pemeliharaan sapi di TPA pernah menjadi alternatif usaha yang dipandang prospektif dan menguntungkan. Bagaimana tidak, sampah yang menjadi sumber pakan sapi merupakan pakan gratis yang tidak membebani biaya produksi, sementara sapi yang dihasilkan terlihat sehat, bobot tubuhnya relatif tidak mengecewakan, dan cara pemeliharaan sederhana. Permasalahannya, usaha yang profitable tak selayaknya membahayakan kesehatan masyarakat sebagai konsumen akhir.

Penanganan masalah ini memerlukan ketegasan pihak terkait, dengan pendekatan yang paling arif terhadap pengelolaan usaha 'sapi TPA'. Bagaimanapun 1000 ekor sapi bukanlah jumlah yang sedikit dan sudah melibatkan modal lumayan bagi masyarakat sekitar TPA yang memeliharanya.

Post a Comment

No comments