Ketika Primadona Meninggalkanku

Tempat tinggalku di Ujungberung, tak jauh dari pool bus Primadona yang dulu berada di Ciporeat. Hal tersebut membuatku langsung mengambil tanggung jawab soal urusan bus, ketika ada kegiatan praktikum salah satu mata kuliah ke Balai Penelitian Veteriner (Balivet) Bogor. Gampang lah, pulang dari kampus kan bisa singgah dulu sebentar untuk memesan bus.

Waktu itu memang musim liburan, bus agak sulit didapat. Karyawan pool bus bilang untuk pesananku akan diberi bus yang baru pulang dari Magelang subuh. Aku diberi bus bagus, tapi baru siap agak siang, sekitar setengah tujuh pagi katanya. Bus harus dimandikan dulu selepas dari perjalanan. Aku setuju, karena acara praktikum juga tidak terburu-buru dan bus hanya akan mengangkut 30 orang mahasiswa mata kuliah pilihan, bukan wajib.

Besoknya aku melaporkan soal bus, jumlah kursi dan kondisinya. Bapak dan Ibu Dosen tampak gembira menerima laporan tersebut. Waktu yang disanggupi pihak bus, menurut mereka, masih cukup pagi dan bisa menghindari macet, supaya siangnya bisa singgah dulu siapa tahu anggota rombongan ingin membeli oleh-oleh. Bus sudah dipesan untuk nongkrong di Dipatiukur, depan kampus Unpad.

Hari H sudah datang. Jam setengah enam pagi aku sudah melesat dengan vespa, sengaja pergi ke pasar menyiapkan bawaan untuk bekal di bus. Kulewati pool bus yang sepi, tak ada bus baru datang atau yang sedang dimandikan. Pikirku, bus yang kupesan mungkin belum datang.

Vespa kusimpan. Setelah segala sesuatu sudah beres, aku pergi ke kantor bus menaiki angkot. Rencanaku, aku sekalian saja ikut bus menuju Dipatiukur. "Gagah lah," bisik hatiku sembari membayangkan pencitraan sebagai pengawal bus.

Kantor pool bus tetap sepi, tak ada tanda-tanda kehidupan. Hmm, mungkin bus dari Magelang telat datang, maklum musim liburan. Begitu pikirku. Tapi biarlah, mau setelat apapun aku kan tidak bakalan kesiangan, karena ikut berangkat dengan busnya.
Paling juga mahasiswa lain yang nunggu, dan nanti kalau sudah datang, barulah sama-sama berangkat.

Jam tujuh kantor pool bus akhirnya buka. Dan sekaligus memucatkan wajahku. Karyawannya bilang bus pesananku sudah stand by di Dipatiukur sejak subuh. OMG, nafasku langsung tak beraturan, detak jantung berdegup keras. Harus bagaimana ini, sudah sesiang ini aku masih ada di Ujungberung.

Secepat kilat aku langsung meloncat masuk kedalam angkot. Sungguh menyebalkan, jalur angkot melewati pasar Ujungberung, Cicaheum dan pasar Suci yang keramaiannya menghabiskan sisa kesabaran. Yang ada adalah jenuh dan emosi. Perjalanan terasa lamaaaa...

Terbuktilah sudah, sampai di Dipatiukur tak ada seonggok bus Primadona yang kucari. Yang ada bus Damri Kopo-Dago. Jaman itu belum populer hape, jadi tak ada ceritanya langsung kontak nelpon atau SMS. Jadilah aku terperangkap dalam dilema. Tapi daripada pulang balik ke kosan, yang mana akan menganggung derita malu dihadapan solmet, lebih baik lanjut saja perjalanan ke kampung. Sama saja jadi trip, dan pulangnya lagi ke Bandung kan bisa beli dulu seupan taleus (talas rebus) biar layak disebut pulang dari Bogor.

Temanku di kampus bilang, Pak Professor kesal menunggu sampai jam delapan. Akhirnya waktu itu aku terpaksa ditinggalkan karena kuatir terlalu telat berangkat. Aku cuma bisa menahan rasa, emhh nasiib... Teman-teman membicarakan kejadian trip ke Bogor sambil terbahak-bahak.

Hiburanku adalah mata kuliah Reproduksi Ternak II mendapat nilai B, padahal aku tidak setor laporan praktikum. Mau laporan apa, kan nggak ada yang bisa dilaporkan. Mungkin Pa Dosen masih punya pertimbangan, mengingat perjuanganku mengirim primadona untuk menemani rombongan praktikum di Bogor...

(based on true story of Kang Dadan Wahyudin, alumnus Angkatan 1991 (Gazelle) Fakultas Peternakan Unpad, dikirm via form My Story, diterjemahkan dan diedit seperlunya, setelah sebelumnya gagal di-translate oleh google^^)

Versi bahasa Sunda dapat dibaca disini:

Post a Comment

No comments