Sekapuk, Penghasil Sapi Kurban Langganan Istana Presiden

Sekapuk adalah nama sebuah desa kecil di Kecamatan Ujungpangkah Kabupaten Gresik, Jawa Timur. Desa ini berada sekitar lima kilometer dari pantai utara Jawa dan mayoritas penduduknya bekerja sebagai petani dan penambang kapur.

Penambangan dolomit dari gunung kapur pernah memunculkan nama desa Sekapuk dalam pemberitaan media massa sekitar tahun 2009. Masyarakat desa tersebut, yang terbiasa menambang gunung kapur secara tradisional untuk dibuat bata putih sejak tahun 50-an, menolak kehadiran alat-alat berat PT. Polowijo, sebuah perusahaan penambangan. Penolakan masyarakat menimbulkan konflik dengan ratusan supir truk pengangkut hasil tambang.

Eksotisme gunung kapur Sekapuk ternyata menyimpan kisah lain tentang komunitas peternak yang berada di dekatnya. Para peternak tersebut, yang ada diantaranya sudah mulai memelihara sapi sejak tiga puluh tahun yang lalu, telah mengangkat nama desa Sekapuk sebagai sentra pemeliharaan sapi terbesar di Kabupaten Gresik. Sapi-sapi yang dipelihara di desa tersebut berasal dari berbagai jenis, mulai lokal hingga peranakan unggul seperti limousine, simental, brangus dan harbort.


Sekapuk juga dapat dikatakan sebagai desa pemasok sapi premium. Bagaimana tidak, salah seorang peternak bernama Mukahar (54), sebagaimana dilansir Kompas.com mengaku sudah mengirim hewan kurban sebanyak 16 kali untuk Istana Presiden. Peternak yang saat ini memiliki 50 ekor sapi tersebut, mulai memelihara sapi sejak tahun 1990 dan lima tahun kemudian mulai 'memasok' sapi premium ke istana. Ia melayani permintaan sapi kurban untuk istana pada era Soeharto, Habibie, Gus Dur dan Megawati.

Mengapa disebut sapi premium? Sapi kurban untuk istana bukanlah sapi sembarangan, melainkan yang terbaik dari yang baik. Sebagai hewan kurban dari presiden, sapi tersebut harus mencerminkan keunggulan maksimal, melebihi standar kelayakan hewan kurban yang baik. Salah satu contohnya adalah bobot sapi yang konon disebut Mukahar sekurangnya harus satu ton dua kuintal (1.200 kg). Kesempurnaan postur tubuh dan penampilan sapi juga sangat diutamakan.

Sapi-sapi yang berasal dari bibit unggul tersebut diberi pakan istimewa dan perawatan yang eksklusif oleh peternak Sekapuk. Konsumsi sapi dipenuhi dengan rumput, jagung muda, dedak dan ampas tahu, serta dilengkapi dengan suplemen jamu.

Jamu memegang peranan penting untuk membentuk sapi yang berotot kekar dan kuat. Peternak Sekapuk meramu dua puluh butir telur, seperempat kilogram bawang putih dan sebotol kecap untuk jamu sapi setiap harinya.

Kebersihan dan kesehatan sapi mendapat perhatian khusus. Tak hanya kandang yang harus selalu bersih dan bebas lalat, sapi-sapi pun dimandikan setiap dua hari sekali dan diberi shampoo. Penampilan sapi-sapi harus terawat bersih agar terhindar dari penyakit.

Pemeriksaan kesehatan sapi dilakukan dengan rutin. Para peternak juga sudah memiliki kepedulian untuk memahami secara baik penyakit-penyakit seperti rahang mulut, anthrax dan gatal, sehingga dapat menjaga pertumbuhan sapi secara maksimal.


Sapi yang dipelihara dengan baik sudah sepatutnya mendapat apresiasi harga yang layak. Seorang peternak senior, Sukadi (51), yang sudah mulai memelihara sapi sejak tahun 1979 kepada Suarakawan.com mengaku biasa menetapkan harga sapi pada kisaran 25 sampai 30 juta per ekornya.

Menjelang Idul Qurban 1433 H pesanan sapi kurban yang masuk meningkat dari 5 ekor menjadi 20 ekor per harinya. Ia sendiri mengaku memiliki ratusan ekor sapi kurban dan mengelola peternakan bersama anaknya, Muhammad Budi (30).

Sapi kurban untuk istana pastinya sudah yang terbaik dari yang tersedia. Harganya sudah paling mahal, sesuai dengan bobot dan penampilannya. Tetapi ada hal lain yang menambah tinggi harganya. Rumitnya prosedur dan pengiriman turut mendongkrak harga jual menjadi antara 50 sampai 90 juta rupiah!

Anda sedang mencari sapi kurban dengan kualitas dan bobot terbaik atau premium? Mungkin saatnya memikirkan untuk mengunjungi Desa Sekapuk dalam waktu dekat.

Post a Comment

No comments