Produser Film 'The Hobbit' Menyangkal Tuduhan Kekerasan Terhadap Hewan Ternak Selama Syuting

Hewan ternak membawa berjuta manfaat. Binatang peliharaan tersebut tidak hanya digunakan manusia sebagai penghasil daging, susu, kulit dan lainnya, tetapi juga bahkan dapat melengkapi dunia entertainment yang gemerlap. jika perlakuan terhadap ternak dianggap tidak beradab, maka yang muncul adalah sekelumit kerepotan menghadapi pemberitaan.

Sutradara pemenang piala Oscar Peter Jackson dan produser film 'The Hobbit' baru-baru ini diberitakan BBC telah menolak tuduhan tentang adanya tindak kekerasan terhadap hewan ternak dalam proses pembuatan film tersebut di New Zealand.

Tuduhan dilontarkan oleh kelompok pembela hak-hak binatang bernama Peta, yang menyatakan bahwa terdapat 27 ternak, terdiri atas kuda, domba, kambing dan ayam yang tewas selama syuting film 'The Hobbit'.

Sang sutradara menyatakan tidak ada hewan mati atau dicederai dalam pembuatan film yang didasarkan pada novel karya JRR Tolkien (pengarang The Lord of The Rings) itu. 'The Hobbit: An Unexpected Journey' akan segera diputar perdana di Amerika Serikat dan Inggris.


Kelompok Peta nampaknya ingin mengirim pesan untuk mencuri perhatian publik. Mereka menyatakan bahwa sebagian besar kematian terjadi di peternakan dan di kandang dimana hewan-hewan itu ditempatkan, dan bukan pada saat kamera mengambil gambar.

Produser film mengatakan penolakan tegas dan menyebut Amerika Humane Association (AHA) telah memantau semua penggunaan hewan selama syuting berlangsung. Pemakaian hewan ternak pada syuting juga lebih dari setengahnya melibatkan teknologi komputer.

Beberapa koboi yang terlibat dalam pembuatan film disebut telah melaporkan bahwa dua kuda tewas akibat patah leher setelah dipaksa syuting di tempat curam. Hal tersebut disanggah produsen film, dengan menyatakan bahwa karyawan yang bersangkutan telah dipecat lebih dari setahun yang lalu.

Lisa Lange, Senior Vice President Peta Amerika Serikat, mengklaim adanya domba dan kambing yang telah mati karena tertular cacing dan jatuh ke dalam lubang pembuangan.
Dia juga mengatakan terdapat selusin ayam yang dianiaya sampai mati oleh anjing.

"Keputusan untuk menggunakan banyak hewan hidup untuk produksi film ini, dan memungkinkan mereka untuk menderita sia-sia, telah membawa industri hiburan pada langkah besar untuk mundur dan memalukan," kata Lange dalam sebuah pernyataan.

Juru bicara Peta juga menyatakan terdapat kuda yang ditinggalkan di lokasi syuting selama tiga jam dengan keadaan kakinya terikat, sehingga menderita luka akibat tali, yang kemudian ditutupi dengan make-up selama pembuatan film.

Produser film menyesalkan munculnya tuduhan Peta. Mereka mengaku sudah memberi perhatian terhadap kesehatan hewan yang digunakan dalam syuting dan memberi perawatan terbaik.

Post a Comment

No comments