Tiga Hal Penyebab Kenaikan Harga dan Kelangkaan Daging Sapi

"Jakarta saja, misalnya, jika membutuhkan 1000 ekor sapi setiap malam, daerah mana yang sanggup memasok?" tanya seorang praktisi peternakan sapi bernama Joko di corong RRI pagi ini, memberi gambaran atas pertanyaan host acara tentang penyebab kelangkaan daging sapi. Terdapat ketidaksesuaian antara kelangkaan bahan makanan tersebut dengan hasil sensus yang menunjukkan ketersediaan ternak saat ini.

Narasumber tersebut termasuk diantara beberapa kalangan yang menganggap hasil sensus populasi ternak nasional tak dapat menjadi jaminan ketersediaan daging sapi untuk pasar. Nyatanya harga daging sapi merangkak hingga Rp. 100.000 per kilogram dan berbuntut demo para pedagang daging untuk mencuri perhatian pemerintah.


Meski ia mendukung swasembada daging sapi, tetapi menurutnya banyak hal yang belum siap dalam mewujudkannya. Sebagai tambahan ilustrasi, ia juga berani mengklaim bahwa lebih banyak 'peternak sapi' yang berdomisili di Jakarta, meskipun kandang ternak berada di Bandung, Jawa Tengah atau Jawa Timur. Ironisnya lagi, secara mendasar ia menganggap belum ada sistem yang dapat disebut tataniaga sapi.

Seolah ingin ikut menyemarakkan keadaan agar lebih tampak dramatis, seorang jagal sapi ikut nimbrung dengan klaimnya bahwa bagaimanapun daging lokal tak akan dapat menggeser kebutuhan pasar akan daging sapi impor. "Tekstur dan rasanya masih kalah," katanya menyahuti pertanyaan reporter. Untunglah, narasumber lain menetralisir keadaan, dengan menyatakan bahwa daging sapi lokal tak kalah kualitasnya dibanding sapi impor.

Pemberitaan tentang daging sapi tiba-tiba membahana mengisi ruang publik dalam beberapa hari terakhir. Media massa baik cetak, online maupun televisi memuat berita tentang kelangkaan daging sapi dengan porsi yang cukup signifikan.

Dirjen Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementrian Pertanian, Syukur Iwantoro, di layar televisi nasional hari ini menyatakan bahwa bergejolaknya harga adalah karena transisi dari masa 'berlimpahnya pasokan' menjadi pembatasan impor. Peternakan sedang dalam track menuju masa swasembada daging nasional, demikian harapannya mewakili suara pemerintah.

Kelangkaan daging sapi, dalam pandangan DR. Ir. Rochadi Tawaf MS., pengamat peternakan dari Fakultas Peternakan Unpad, adalah ujian bagi pemerintah. Menurut akademisi yang juga Sekjen Perhimpunan Peternak Sapi Kerbau Indonesia (PPSKI) tersebut, "Permasalahan sebenarnya sangat kompleks."

Alumnus Fapet Unpad angkatan 1973 tersebut, sebagaimana dikutip detikFinance, menyebut penyebab kelangkaan dan naiknya harga daging sapi disebabkan oleh paling tidak terdiri atas tiga hal.

Pertama, sensus ternak tahun 2011 menunjukkan hasil terdapatnya 14,8 juta ekor sapi, padahal target pemerintah menunjuk angka 14,2 juta ekor ternak sebagai swasembada daging. Hal ini menyebabkan pengurangan keran impor dari 30-40% di tahun 2010, menjadi 17% di tahun 2012. Kebijakan drastis ini konon disebut Australia sebagai kebijakan 'tidak benar'.

Kedua, infrastruktur yang buruk menjadi penunjang kelangkaan distribusi daging dari daerah timur ke barat Indonesia.

Ketiga, berhentinya penyaluran sentra penghasil sapi seperti Jawa Timur dan Jawa Barat. Pembatasan dan pengeluaran sapi yang dilakukan kedua daerah tersebut menyebabkan tersendatnya distribusi daging. "Populasi ternak di Jatim 4 juta ekor sedangkan di Jabar sekitar 600 ribuan ekor menurut hasil sensus... Jika Jatim melarang ekspor sapi bakalan di bawah 400 kg, maka peternak penggemukan di Jabar akan kekurangan pasokan sapi...," tegasnya.

Pada sebuah diskusi singkat di dinding fp ALUMNI FAPET UNPAD, alumnus yang akrab dipanggil Kang Dida tersebut menyatakan jika kenaikan harga daging sapi menggangu inflasi, maka pemerintah perlu melakukan kebijakan yang bersifat intervensi, seperti perbaikan infra struktur, impor sapi atau daging.

Akankah impor sapi dan daging menjadi jawaban permasalahan ini di esok hari?

Post a Comment

No comments