01 December 2012

Sapi Langka, Harga Naik, Pasokan Cukup

Kelangkaan sapi dan meroketnya harga daging sapi menimbulkan dugaan bahwa terjadi kekurangan pasokan pada pasar. Pengamat dunia peternakan dari Unpad, Dr. Ir. Rochadi Tawaf MS., menengarai setidaknya tiga hal sebagai penyebab kenaikan harga dan kelangkaan daging sapi, salah satunya menyangkut distribusi.

Dinas Peternakan Jawa Barat sebagaimana dilansir Pikiran-Rakyat hari ini, mencatat pemasukan ternak sapi potong dari Jawa Timur hingga 25 November 2012 sebesar 30.562 ekor. Pemasukan itu tercatat di dua pos pemeriksaan hewan, yakni Banjar, dan Losari.

Kepala Dinas Peternakan Jabar, Koesmayadie Tatang Padmadinata menyebutkan, pemasukan ternak sapi potong itu hanya untuk kawasan Jabar. Sementara untuk Jakarta, ternak sapi potong yang masuk sebesar 5.904 ekor.

"Bila melihat jumlah ternak sapi potong yang masuk ke Jabar berdasarkan data tersebut, pasokan sapi potong itu bisa dikatakan cukup," katanya saat ditemui wartawan, Jumat (30/11).

Kadisnak Jabar menambahkan, terdapat enam feedloter yang telah siap memotong sapi sebanyak 7.274 ekor pada November tahun ini. Dengan demikian, total sapi potong yang terdapat di Jabar bila digabungkan dengan sapi potong yang masuk dari Jatim sebanyak 37.836. "Adapun kebutuhan sapi di Jabar sebesar 1.378 ekor/hari atau setara 221 ton/hari," tuturnya.

Kepala Seksi Kesehatan Hewan dan Masyarakat Veteriner Dinas Peternakan Jabar, Indriantari menyatakan kepada Pikiran Rakyat di Bandung Jumat, peristiwa langkanya sapi dan kenaikan harga yang terjadi pada dasarnya terpengaruh oleh psikologi dan mekanisme pasar.

Dia menyebutkan, pada saat terjadi pemogokan pedagang daging sapi di DKI Jakarta karena kelangkaan sapi, peristiwanya terjadi pada saat akhir pekan saja. Di waktu seperti itu, permintaan daging sapi di pasar-pasar tradisional justru sedang menurun. Soalnya, banyak dari warga Jakarta yang tidak berangkat ke pasar.

Namun demikian, menurutnya, peristiwa itu berimbas ke daerah-daerah di sekitarnya. Menurutnya, saat itu RPH di Bogor, Bekasi, dan Depok berhenti memotong selama sehari atau dua hari karena beberapa hal, seperti bentuk solidaritas atau karena memang diinstruksikan untuk berhenti.

”Tetapi, dari peristiwa itu harga daging sapi naik, meski pasokannya ada,” katanya.

Di sisi lain, dia mengatakan, mekanisme pasar yang ada saat ini memungkinkan munculnya pembeli terkuat karena faktor modalnya yang juga kuat. Hal tersebut, menurutnya, turut mempengaruhi naiknya harga sapi.

Mengomentari perkara ini, Iwan Piliang menulis dalam blognya dengan keras. Sebagian kalimatnya bahkan menuding dengan tajam ke arah tertentu, katanya:

Kuat dugaan saya kelangkaan daging ini, dilakukan oleh mafia trader sapi. Syahdan persoalan indikasi korupsi di Departemen Pertanian, dilaporkan ke Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menjadi salah satu musabab. Mafia kementrian unjuk gigi. Mereka hendak mengatakan: lihat nih, kalian mainkan sedikit saja, kami langkakan daging. Ujung-ujungnya, nanti akan keluar regulasi pemberian ijin impor daging bertajuk dari Australia, tapi diimpor dari Singapura, sumbernya dari negeri antah-berantah.

Karena urusan daging ini, saya baru pula mafhum, bahwa di pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta Utara, ada kawasan pabean teritorinya dikuasai asing. Aparat Indonesia hanya bisa melongok-longok tumpukan kontainer di sana. Tapi belum bisa dan entah mengapa tak boleh menyentuhnya. Jika keadaan di negeri sendiri seperti itu, Anda cerdas, bisa merumuskan sendiri, sejatinya pelabuhan kita itu apakah 100% kita kuasai?
Tanggapan Anda?


Silakan copy-paste dengan tetap mencantumkan link sumber


No comments:

Post a Comment


[pulangkandang.com]-> [close]