27 May 2016

Kisah Sayyidina Ali Membagi Warisan Unta

Alkisah, seorang guru sufi yang shaleh merasa yakin bahwa ia sudah hampir sampai di batas akhir usianya. Ia kemudian memilah-milah harta yang dimilikinya berdasarkan hukum agama, dan menyisakan tujuh belas ekor unta untuk diwariskan kepada murid-muridnya. Tentang warisan tersebut, ia pun menulis wasiat yang berisi perintah pembagiannya, yakni: murid tertua mendapat setengah dari jumlah warisan, yang berusia di pertengahan antara yang tertua dan termuda memperoleh sepertiganya, dan yang termuda memiliki sepersembilannya.

Sang Guru akhirnya wafat dan wasiatnya pun dibacakan. Sebagian dari muridnya menganggap bahwa wasiat tersebut merupakan tuntunan agar tetap menjaga warisan Sang Guru secara utuh dan bersama-sama. Sebagian lagi bertanya kepada pihak lain, yang kemudian memberi saran agar mereka membagi warisan setepat mungkin. Seorang hakim bahkan merekomendasikan untuk menjual unta-unta tersebut, lalu membagi perolehan uang sebagaimana Sang Guru wasiatkan. Murid-murid yang lain ada juga yang secara ekstrim menganggap warisan tersebut tidak sah karena pembagiannya tidak dapat dilaksanakan.

Para murid akhirnya tersadar, bahwa mungkin ada kebijaksanaan di balik perintah pembagian warisan tersebut. Mereka lalu mencari orang yang dapat memecahkan masalah-masalah yang sangat pelik. Proses tersebut tidak mudah, karena setiap orang yang mereka temui ternyata gagal memecahkan persoalan tersebut. Hingga akhirnya perjalanan mereka sampai di hadapan menantu Nabi, Sayyidina Ali.

"Inilah solusi untuk masalah kalian," demikian Sayyidina Ali memberikan jawaban, "aku tambahkan seekor unta untuk kalian, sehingga jumlahnya menjadi delapan belas ekor. Murid tertua di antara kalian akan mendapat setengah dari jumlah itu, yakni sembilan ekor. Murid yang usianya di pertengahan akan mendapat sepertiganya, yakni enam ekor. Sedangkan murid termuda akan menerima sepersembilannya, yakni dua ekor. Semuanya berjumlah tujuh belas ekor. Seekor unta yang tersisa, itu untaku sendiri, maka kembalikanlah padaku.” Begitulah, para murid telah menemukan guru mereka yang baru.

Tulisan di atas merupakan adaptasi bebas dari kisah “Berbagi Unta” yang terdapat dalam buku ‘Thinkers of the East’ karya Idries Shah (Penguin Books, N.Y., 1979), yang diterjemahkan oleh Penerbit Pustaka, Bandung di dalam buku ‘Hikmah dari Timur’ (1982). Kisah-kisah berhikmah yang ‘melibatkan’ hewan ternak banyak terdapat di dalam khazanah pustaka, semenjak jaman dulu hingga sekarang. Banyak di antaranya terus dibacakan dan diulang-ulang karena mambawa manfaat dan pelajaran yang sangat berharga.


Silakan copy-paste dengan tetap mencantumkan link sumber


No comments:

Post a Comment


[pulangkandang.com]-> [close]