Es Corner dan Jawaban Doa


Awal tahun 1989 aku memutuskan untuk berjualan es campur di Bandung menggunakan gerobak kecil dengan atap plastik tenda biru untuk berteduh. Menempati sudut kecil di pinggir sungai di perempatan Jalan PH Mustafa dan Cikutra. Ini kujalani setelah lebih setahun malang melintang di Bandung, tak juga mendapat pekerjaan di sektor formal, selepas lulus kuliah. Aku tinggal di gubuk kecil –gudang rongsokan barang-barang yang tak berguna milik orang tua kawan kuliah. Malamnya sebelum tidur di gudang itu, sering didatangi kawan-kawan -kurang beruntung yang belum lulus kuliah, adalah kepada mereka aku membantu menyelesaikan skripsinya. Usaha kecil itu kuberi nama "Es Corner", -belakangan banyak orang bertanya apakah itu berbeda atau sama dengan es cendol, es campur atau es krim?

Suatu malam seorang kawan mengabari kalau bank BRI sedang menerima pekerja baru, aku pun tertarik. Besoknya sambil tetap berjualan, aku menyiapkan lamaran kerja. Hanya saja aku bingung, di Bandung aku tak punya alamat tinggal. Gudang tempat tinggalku, sekalipun dipinggir jalan besar, tetapi tidak bernomor. Ke mana surat akan disampaikan apabila nanti aku dipanggil untuk mengikuti tes.

Kulihat rumah sebelah kanan bernomor 69, sedang di sebelah kiri –di seberang sungai bangunan kantor nomornya 73. Aku seperti mendapat petunjuk untuk memberi nomor 71 di gudang tempat tinggalku. Dengan sebilah papan yang kutemukan dipinggir sungai aku menulis angka dengan dengan arang kayu, kemudian ditancapkan di depan gudang dengan menggunakan sebilah bambu. Aku pun segera mencari perangko, menempelkannya di amplop kemudian memasukan amplop tebal itu ke dalam kotak pos warna jingga yang kebetulan berada di seberang jalan.

Aku pun melanjutkan berjualan, tanpa terlalu ingin mengingatnya sampai di pagi yang cerah aku sedang berjemur sambil menunggui gerobak yang belum satu pun orang datang, bahkan untuk sekedar bertanya. Tiba-tiba, seseorang mencari namaku.

“Ya, ini betul nama saya."
“Lho, kok bisa tiba di alamat rumahku surat ni! Aku tak pernah berhubungan dengan bank dan tak punya kerabat yang insinyur. Tetapi, karena kupikir ini surat penting maka kucari nama kau!”

Suaranya keras memberondongku macam petasan betawi yang disulut saat kenduri anak sunatan, tak sempat aku bisa memotong barang satu kata. Aku mulai menyadari kalau aku keliru membuat nomor rumah. Saat itu Jalan PH Mustafa baru saja selesai diperlebar yang mengakibatkan banyak bangunan yang dibongkar yang membuat nomor rumah menjadi tidak beraturan. Nomor rumah 71 di jalan itu ternyata sudah ada yang punya. Ia orang Batak, marga Sihombing. Surat yang dibawanya adalah panggilan tes seleksi penerimaan pekerja di Bank BRI. Aku menerima surat itu dari tangannya dengan penuh syukur, sekaligus malu. Kalau tidak segera beranjak, aku ingin minta maaf sekaligus berterima kasih lebih dari seribu kali kepada Bang Sihombing itu.

Setelah kubaca surat panggilan itu aku dibuat kaget untuk yang kedua kalinya pagi itu. Tes seleksi akan dilaksanakan hari itu juga pukul 12 siang, melalui wawancara pendahuluan. Maka, berbekal kemeja yang kupinjam dari seorang kawan aku berangkat menggunakan Bus Damri dari Cicaheum menuju Jalan Asia-Afrika, Kantor Wilayah BRI Bandung. Sayang, sesampainya di sana aku terlambat 15 menit wawancara untuk semua pelamar yang hadir baru saja usai. Aku hanya menarik napas dalam kemudian menghembuskannya.

Sejurus kemudian, mbak cantik bagian administrasi lamaran yang tadi kutemui itu masuk ke dalam ruangan sambil menenteng beberapa stopmap polio, tak mempedulikanku yang berdiri kaku. Rupanya hanya sebentar ia di dalam, ketika keluar aku masih berdiri. Ia pun menyampaikan –dengan gigi gingsulnya yang menambah manis, kalau aku boleh wawancara siang itu.

Tanggal 1 Juni 1989 aku resmi menjadi pegawai Bank BRI, ditempatkan di Kantor Cabang Indramyu di BRI Unit Kroya -desa kecil di selatan berbatasan dengan Sumedang, sebagai customer service, dulu istilahnya deskman. Ketika menerima gaji pertama aku terkejut ternyata gajiku setara pendidikan SMU. Kebijakan perusahaan membayarkan gaji sesuai level jabatan bukan tingkat pendidikan apa yang menduduki jabatan tersebut. Seiring dengan perjalan waktu kesempatan pun datang, aku beruntung bisa mengikuti seleksi program pengembangan staf. Saat ini aku patut bersyukur diberi kepercayaan dan amanah dari perusahaan untuk menduduki jabatan pada eselon 3 dengan syarat kualifikasi pendidikan formal minimal sarjana. Bukan jabatan tertinggi, tetapi masih lebih baik karena ada banyak kawan-kawan kuliah yang kurang beruntung.

Kalau mengingat kilas balik ke belakang, aku berpikir bukan karena aku hebat hingga bisa meraih segala sesuatu seperti sekarang ini, tetapi karena pertolongan Tuhan yang Maha Berkehendak.

Kawan, janganlan putus dalam berdoa dan tetaplah optimis menghadapi hidup. Pertolongan Tuhan itu kadang datang dari tempat dan sumber yang tak terduga. Sekali waktu mungkin Tuhan akan mengutus orang macam Abang Sihombing itu ke tempatmu berdiri untuk menyampaikan kabar gembira sebagai jawaban atas doa-doa yang kaupinta.

Salam.

Sumber: fb Johani Sutardi, alumnus Fapet Unpad

Post a Comment

No comments